Kultur jaringan anggrek -- Penelitian yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas Anggrek Dendrobium hibrida dengan perlakuan pemberian kolkhisin telah dilaksanakan di rumah paranet kebun Jurusan Agronomi Fakultas Pertanian UPN “Veteran” Yogyakarta pada bulan Juli 2003 sampai dengan Januari 2004. Penelitian dilaksanakan faktorial dengan menggunakan Rancangan Acak Kelompok Lengkap. Faktor lama perendaman terdiri atas 3 jam, 6 jam, dan 9 jam. Faktor konsentrasi kolkhisin terdiri atas 0,01 %, 0,02 %, dan 0,03 % dengan kontrol lepas adalah tanaman anggrek dendrobium hibrida tanpa perendaman kolkhisin. Parameter yang diamati adalah diameter batang utama (mm), ukuran bunga (cm), ketebalan sepal, petal dan labelum bunga, dan jumlah kromosom. Hasil penelitian menunjukkan adanya interaksi antara perendaman dan konsentrasi kolkhisin yang diberikan pada diameter batang, ukuran bunga, ketebalan sepal dan labelum dan jumlah kromosom. Kualitas bunga yang diperlakukan dengan kolkhisin lebih baik dibandingkan kontrol.
Peningkatan kualitas anggrek dendrobium hibrida dengan pemberian kolkhisin
sari tembakau (Nicotiana tabacum L.) dengan perlakuan kolkhisin, menyatakan bahwa pada planlet yang diberi perlakuan kolkhisin telah terjadi peningkatan jumlah daun, panjang ruas daun semakin pendek, lebar dan panjang serta luas daun semakin besar. Konsentrasi kolkhisin 0,40% menghasilkan tanaman di-haploid; konsentrasi 0,10% menghasilkan tanaman tri- haploid; dan konsentrasi 0,25% menghasilkan tanaman albino. Jauhariana (1995) meneliti tentang pengaruh pemberian kolkhisin terhadap perubahan jumlah kromosom, struktur anatomi daun dan gula pada stek tanaman Stevia rebaudiana Bertoni M. Hasil penelitian yang diperoleh adalah perlakuan perendaman selama 1 jam pada konsentrasi larutan kolkhisin 0,04% sudah dapat menginduksi timbulnya tetraploid, tetapi perlakuan perendaman selama 2 jam pada konsentrasi larutan kolkhisin 0,02% akan memberikan hasil terbaik terhadap pertumbuhan stek Stevia rebaudiana. Nurfadalina (1997), mengatakan bahwa konsentrasi larutan kolkhisin dan waktu perendaman yang berpengaruh terhadap jumlah kromosom, indeks stomata, dan kandungan protein tanaman polong kapri adalah konsentrasi 5 ppm dan 10 ppm dengan perendaman 6 jam. Tanaman poliploid biasanya memiliki ukuran bagian-bagian tanaman, yaitu akar, batang, daun, bunga, buah, yang lebih besar; sel lebih besar dan tampak jelas pada sel-sel epidermis; inti sel juga lebih besar; buluh-buluh pengangkutan berdiameter lebih besar; dan ukuran stomata yang lebih besar.
Kamis, 16 Desember 2010
Konservasi Informasi Genetika
Untuk mempertahankan hidupnya organisme berkembang-biak dengan cara kawin ataupun dengan cara tidak kawin. Kawin merupakan cara pembiakan utama pada organisme tingkat tinggi. Pada organisme tingkat rendah, cara tidak kawin merupakan strategi utamanya. Nampaknya, arah perubahan evolutif bergerak dari strategi tidak kawin menjadi strategi kawin [mengapa?]. Baik cara kawin atau tidak kawin, prinsipnya adalah menghasilkan turunan berikutnya yang sama atau sedikit sama. Jadi, setiap organisme yang berbiak harus memiliki sifat dan kemampuan meng-kopy dirinya sendiri menjadi copy lainnya yang serupa.
Sel adalah unit dasar hidup. Semua organisme hidup tersusun dari unit sel tunggal atau sel banyak. Untuk mempertahankan hidupnya, sel memperbanyak dirinya dari satu generasi ke generasi lain dengan cara meng-copy dirinya dari satu menjadi dua, dari dua menjadi empat, dan seterusnya. Bukan saja soal jumlah sel yang berlipat-ganda, volume sel pun meningkat linier searah dengan peningkatan jumlah sel.
Karena komposisi dan jumlah zat-zat penyusun sel tunggal dari satu generasi ke generasi selanjutnya relatif tetap, maka terjadi peningkatan biomasa secara linier sesuai dengan jumlah sel. Artinya bahwa seiring dengan peningkatan jumlah sel, berlangsung biosintesis senyawa-senyawa penyusun tubuh sel terutama karbohidrat, protein, asam-asam nukleat dan lemak. Mereka adalah bahan baku penyusun tubuh sel seperti dinding sel, membrane, cairan sel, dan organela; atau menjadi mesin-mesin fungsional bekerjanya aspek-aspek fisiologis sel seperti enzim, penghantaran dan alih-ragam signal (signal transduction), sistem kekebalan tubuh, atau cadangan energi kimia.
Keempat golongan senyawa penyusun utama tubuh sel itu disintesis dari senyawa-senyawa antara seperti asam amino, nukleotida, gula dan asam lemak. Senyawa-senyawa antara ini disintesis dari unsur-unsur yang jauh lebih sederhana lagi seperti glukosa, amonia, dan garam-garam anorganik. Dalam hal ini, glukosa disintesis langsung oleh organisme berklorofil, melalui proses fotokimia dan biokimia fiksasi CO2 dan konversi energi radiasi matahari ke dalam ikatan-ikatan kimia karbon glukosa. Organisme yang tidak berklorofil bergantung penyediaan energi dan senyawa karbon dari organisme berklorofil.
Pertanyaannya ialah, “apa kiranya yang menyebabkan sel dan organisme mampu memperbanyak dirinya sendiri dan mewariskan semua informasi genetis yang terkandung kepada sel turunannya?” Teori kromosom tentang pewarisan informasi menerangkan bahwa selama proses mitosis satu sel membela menjadi dua sel. Namun sebelum pembelahan sel berlangsung, jumlah kromosomnya berlipat-ganda. Pada sel manusia dari 46 menjadi 92 sebelum kemudian dipilah menjadi masing-masing 46 untuk sel-sel turunannya. Dalam pembelahan meiosis, satu sel diploid menggandakan bahan genetiknya sekali namun diikuti oleh pembelahan sel dua kali. Sehingga, satu sel diploid menghasilkan empat sel haploid. Setiap sel memiliki jumlah kromosom separuh dari jumlah kromosom sel induknya.
Dengan membandingkan jumlah DNA pada sel-sel diploid dan sel-sel haploid diperoleh data bahwa jumlah DNA pada sel-sel diploid memiliki jumlah DNA dua kali-lipat. Seandainya satu sel diploid memiliki 9 pg (pico gram; 10-12 g) DNA maka sel haploid memiliki 4.5 pg DNA. Dalam hal ini, jumlah kelipatan DNA selaras dengan jumlah kelipatan kromosom. Dengan demikian, setiap sekali pembelahan sel mitosis jumlah DNA-nya pun bertambah dua dua kali.
Visualisasi replikasi DNA berselaras dengan replikasi kromosom selama proses pembelahan sel mitosis didemonstrasikan oleh Herber Taylor (1958). Ia memberi makan tanaman keluarga lili dengan thimin radioaktif, setelah sel-selnya membelah. Tanaman-tanaman tersebut kemudian dipindahkan ke dalam media tanpa radioisotop. Preparat kromosom yang berasal baik sebelum, selama dan setelah perlakuan isotop disiapkan dipermukaan slide kaca, dan disingkap kepermukaan film fotograf.
Hasilnya bahwa sebelum kromosom itu diperlakukan dengan isotop thimin, kromosomnya tidak menghasilkan "pengenal" dalam kromosom berupa warna "hitam hangus" di permukaan film. Kromosom yang langsung dipersiapkan dari perlakuan thimin menghasilkan "pengenal" pada kedua pasang kromosom dipermukaan film. Menariknya, kromosom yang dipersiapkan dari tanaman yang telah dipindahkan ke media tanpa thimin isotop yang sebelumnya diperlakukan dengan radioisotop, terdapat kromosom yang satu dari pasangannya tidak ditemui pengenal (kecuali di daerah pindah-silang). Eksperimen ini membuktikan bahwa Sintesis DNA berselaras dengan replikasi DNA dan bersifat linear terhadap struktur kromosom, dan terjadi sekali untuk setiap kali pembelahan sel.
Sifat memperbanyak diri secara vegetatif demikian tidak hanya dimiliki oleh bahan genetik dalam kromosom. DNA sirkuler yang disebut plasmid atau DNA batangan pada virus berkemampuan memperbanyak diri dengan cara mengkopi molekul DNA tunggal menjadi sepasang ikatan DNA ganda. Proses mengkopi diri sendiri dari polimer DNA menjadi jiplakan-jiplakan DNA identik disebut replikasi DNA.
Replikasi DNA
Selang beberapa saat setelah publikasi Crick dan Watson mengenai struktur rantai ganda DNA, mereka kemudian mengemukakan implikasi struktur rantai ganda ini kepada mekanisme cetak-kopi informasi. Baik penelitian E. Chargaff dan Herbert Taylor membuktikan bahwa DNA bereplikasi semikoservatif. Artinya bahwa dalam sintesis DNA, dengan bahan awal DNA yang mampu memperbanyak diri, replicon, seperti plasmids dan kromosom, setiap rantai tunggal DNA berfungsi sebagai cetakan bagi sintesis rantai DNA baru pasangannya.
Pertanyaannya ialah, “bagaimana mekanisme biosintesis DNA sesungguhnya terjadi di dalam sel?” Arthur Kornberg menjawab pertanyaan ini dengan mendekatinya melalui pendekatan ensimatik. Ia berpendapat: "replikasi rantai nukleotida pasti dikatalisis oleh suatu enzim". Atas dasar pandangan tersebut, ia berusaha mengisolasi enzim yang bertanggungjawab pada biosintesis DNA dan mempelajari mekanisme aksi ensimnya.
Ia membuat ekstrak protein dari bakteri E. coli dan menambahkannya ke dalam suatu campuran reaksi dengan sejumlah komponen berikut: deoksinukleosida trifosfat dimana atom P dan C-nya menggunakan 32P atau 14C dan deoksinukleosidanya mengandung keempat basa nitrogen A, T, G, C; Mg++, serta DNA sebagai cetakan. Dengan campuran ini dalam tabung reaksi, diharapkan akan terbentuk polinukleotida dengan berat molekul yang lebih tinggi.
Usahanya berhasil, dan bukti-bukti menunjukkan bahwa bahwa polimerisasi dimaksud menunjuk kepada biosintesis DNA. Ia mendemonstrasikan bahwa polimerisasi DNA hanya dapat berhasil jika keempat deoksinukleosida trifosfat dan cetakan ada dalam komponen reaksi. Selanjutnya, dengan adanya alat uji (bioassay) aktifitas enzim yang mensintesis DNA, memungkinkan diisolasinya enzim yang bertanggung-jawab pada reaksi tersebut. Kornberg menamai enzim tersebut DNA polimerase.
Reaksi kimia yang dipercepat oleh DNA polimerase adalah mensintesis polinukleotida sambil melepaskan satu molekul pirofosfat (P-P) untuk setiap penambahan satu nukleosida trifosfat ke dalam rantai baru. Bukti yang paling kuat mendukung bahwa reaksi in vitro dipercepat oleh DNA polimerase bukan sekedar polimerisasi acak nukleotida, tetapi terlibat dalam replikasi DNA, adalah bahwa DNA cetakan yang ditambahkan ke dalam campuran reaksi tidak hanya diperlukan agar polimerisasi berlangsung, tetapi juga sebenarnya menentukan ciri dari polinukleotida yang di bentuk.
Melalui analisis komposisi basa nukleotida yang terbentuk setelah reaksi enzimatis dari berbagai macam DNA cetakan, Arthur Kornberg berhasil menunjukan bahwa DNA yang disintesis mengikuti ciri komposisi basa cetakan DNA-nya. Penelitian lanjut membuktikan bahwa DNA cetakan mengarahkan tidak hanya komposisi keseluruhan basa yang terbentuk, tetapi frekuensi relatif dari basa-basa yang terbentuk.
Berdasarkan studi sintesis DNA secara in vitro, dapat dikatakan bahwa DNA bertindak langsung sebagai cetakan dalam proses kopolimerisasi teratur replika-replika yang terbentuk tanpa membutuhkan sintesis senyawa antara bukan DNA. Dalam perkembangan studi biokimia, kemudian dapat dirancang bangunan yang lebih detil replikasi DNA, serta berbagai enzim yang terlibat.
Mekanisme pembelahan sel
Pertanyaan lanjut ialah, bagaimana sesungguhnya sel menggandakan DNA nya sendiri dan kemudian mendistribusikannya secara meraka kepada sel turunannya secara sama? Untuk menjawab pertanyaan tersebut, sel berhadapan dengan persoalan koordinasi antar bagian dan proses, yaitu bahwa karena replikasi DNA hanya berlangsung sekali untuk setiap sekali pembelahan sel, replikasi DNA harus terpadu dengan pembelahan sel. Replikasi DNA harus mendahului pembelahan sel agar sebelum pembelahan sel berlangsung, telah tersedia bahan genetik untuk diagihkan kepada masing-masing sel turunan.
Untuk menjawab pertanyaan tersebut, maka replikasi DNA merupakan bagian keseluruhan dari pembelahan sel, dan merupakan proses awal bagi sel berkomitmen meneruskan proses pembelahan sel. Sekali pembelahan sel diawali ia tidak bisa kembali lagi ketahap semula, dan harus menyelesaikan proses sintesis DNA sebelum pembelahan sel berlangsung. Pembelahan sel tidak boleh terjadi jika replikasi DNA belum selesai. Di dalam kenyataannya, selesainya proses replikasi merupakan pemicu bagi terjadinya pembelahan sel. Jika aturan ini dilanggar, maka transmisi informasi akan mengalami kegalauan.
Pada prokarion, replikasi DNA berawal di suatu tempat yang amung yang disebut daerah “pengawalan” (origin). Sebaliknya pada eukarion, replikasi DNA dimulai di awal fase S, yaitu fase yang memiliki periode yang panjang dalam pembelahan sel, yang dalam periode tersebut sintesis DNA berlangsung, bahkan berlangsung di banyak titik-titik pengawalan di dalam genom.
Sabtu, 11 Desember 2010
ARTHROPODA
Arthropoda (dalam bahasa latin, Arthra = ruas , buku, segmen ; podos = kaki) merupakan hewan yang memiliki ciri kaki beruas, berbuku, atau bersegmen.Segmen tersebut juga terdapat pada tubuhnya.Tubuh Arthropoda merupakan simeri bilateral dan tergolong tripoblastik selomata.
Ciri tubuh
Ciri tubuh Arthropoda meliputi ukuran, bentuk, struktur, dan fungsi tubuh.
Ukuran dan bentuk tubuh
Ukuran tubuh Arthropoda sangat beragam, beberapa diantaranya memiliki panjang lebih dari 60 cm., namun kebanyakan berukuran kecil.Begitu pula dengan bentuk Arthropoda pun beragam.
Struktur tubuh
Tubuh Arthropoda bersegmen dengan jumlah segmen yang bervariasi.Pada tiap segmen tubuh tersebut terdapat sepasang kaki yang beruas.Segmen bergabung membentuk bagian tubuh, yaitu Kaput (kepala), toraks (dada), dan abdomen (perut).
Ciri lain dari Arthropoda adalah adanya kutikula keras yang membentuk rangka luar (eksoskeleton).Eksoskeleton tersusun dari kitin yang di sekresikan oleh sel kulit.Eksoskeleton melekat pada kulit membentuk perlindungan tubuh yang kuat.
Eksoskeleton terdiri dari lempengan-lempengan yang dihubungkan oleh ligamen yang fleksibel dan lunak.Eksoskeleton tidak dapat membesar mengikuti pertumbuhan tubuh.Oleh karena itu, tahap pertumbuhan Arthropoda selalu diikuti dengan pengelupasan eksoskeleton lama dan pembentukan eksoskeleton baru.Tahap pelepasan eksoskeleton disebut dengan molting atau ekdisis.Hewan yang biasanya melakukan ekdisis misalnya kepiting, udang, dan laba-laba.
Sistem saraf Arthropoda berupa sistem saraf tangga tali berjumlah sepasang yang berada di sepanjang sisi ventral tubuhnya.
Pada berbagai tempat di segmen tubuh, ada pembesaran saraf tangga tali yang disebut ganglia.Ganglia berfungsi sebagai pusat refleks dan pengendalian berbagai kegiatan.Ganglia bagian anterior yang lebih besar berfungsi sebagai otak.
Sistem pencernaan Arthropoda terdiri dari mulut, esofagus, lambung, usus, dan anus.Mulutnya dilangkapi dengan berbagai alat tambahan yang beragam, misalnya mandibula dan maksila pada belalang.
Arthropoda bernapas dengan insang, trakea, atau paru-paru buku.Sisa metabolisme berupa cairan dikeluarkan oleh organ ekskresi yang disebut saluran/tubula Malpighi, kelenjar ekskresi, atau keduanya.Sistem sirkulasi Arthropoda bersifat terbuka.Sistem sirkulasi terdiri dari jantung, pembuluh darah pendek, dan ruang disekitar organ tubuh yang disebut sinus atau hemosol.Darah Arthropoda disebut juga hemolimfa.
Cara hidup dan habitat
Cara hidup Arthropoda sangat beragam, ada yang hidup bebas, parasit, komensal, atau simbiotik.Dilingkungan kita, sering dijumpai kelompok hewan ini, misalnya nyamuk, lalat, semut, kupu-kupu, capung, belalang, dan lebah.
Habitat penyebaran Arthropoda sangat luas.Ada yang di laut, periran tawar, gurun pasir, dan padang rumput.
Reproduksi
Sistem reproduksi Arthropoda umumnya terjadi secara seksual.Namun ada juga yang secara aseksual, yaitu dengan partenogenesis.
Partenogenesis adalah pembentukan individu baru tanpa melalui fertilisasi (pembuahan).Individu yang dihasilkan bersifat steril.Organ reproduksi jantan dan betina pada Arthropoda terpisah, masing-masing menghasilkan gamet pada individu yang berbeda sehingga bersifat dioseus (berumah dua).Hasil fertilisasi berupa telur.
Klasifikasi
Arthropoda diklasifikasikan menjadi 20 kelas berdasarkan struktur tubuh dan kaki.Berikut ini akan diuraikan empat kelas diantaranya yang paling umum, yaitu Kelas Arachnoidea, Myriapoda, Crustacea, dan Insecta.
Arachnoidea
Arachnoidea (dalam bahasa yunani, arachno = laba-laba) disebut juga kelompok laba-laba, meskipun anggotanya bukan laba-laba saja.Kalajengking adalah salah satu contoh kelas Arachnoidea yang jumlahnya sekitar 32 spesies.Ukuran tubuh Arachnoidea bervariasi, ada yang panjangnya lebih kecil dari 0,5 mm sampai 9 cm.Arachnoidea merupakan hewan terestrial (darat) yang hidup secara bebas maupun parasit.Arachnoidea yang hidup bebas bersifat karnivora.Arachnoidea dibedakan menjadi tiga ordo, yaitu Scorpionida, Arachnida, dan Acarina.Scorpionida memiliki alat penyengat beracun pada segmen abdomen terakhir, contoh hewan ini adalah kalajengking (Uroctonus mordax) dan ketunggeng ( Buthus after).Pada Arachnida, abdomen tidak bersegmen dan memiliki kelenjar beracun pada kaliseranya (alat sengat), contoh hewan ini adalah Laba-laba serigala (Pardosa amenata), laba-laba kemlandingan (Nephila maculata).Acarina memiliki tubuh yang sangat kecil, contohnya adalah caplak atau tungau (Acarina sp.).
Berikut adalah ciri-ciri dari salah satu hewan Arachnoidea yang sering kita jumpai, yaitu laba-laba.Tubuhnya terdiri dari dua bagian, yaitu sefalotoraks (kepala-dada) pada bagian anterior dan abdomen pada bagian posterior.Sefalotoraks adalah penyatuan tubuh bagian sefal atau kaput (kepala) dan bagian toraks (dada).Pada sefalotoraks terdapat sepasang kalisera (alat sengat), sepasang pedipalpus (capit), dan enam pasang kaki untuk berjalan.Kalisera dan pedipalpus merupakan alat tambahan pada mulut.
Pada bagian abdomen (opistosoma) laba-laba terdiri dari mesosoma dan metasoma.Pada bagian posterior abdomen terdapat spineret yang merupakan organ berbentuk kerucut dan dapat berputar bebas.Didalam spineret terdapat banyak spigot yang merupakan lubang pengeluaran kelenjar benang halus atau kelenjar benang abdomen.Kelenjar benang halus mensekresikan cairan yang mengandung protein elastik.Protein elastik tersebut akan mengeras di udara membentuk benang halus yang digunakan untuk menjebak mangsa.
Laba-laba bernapas dengan paru-paru buku atau trakea.Paru-paru buku adalah organ respirasi berlapis banyak seperti buku dan terletak pada bagian abdomen.Ekskresi laba-laba dilakukan dengan tubula ( tunggal = tubulus ) Malpighi.Tubula Malpighi merupakan tabung kecil panjang dan buntu dan organ ini terletak di dalam hemosol yang bermuara ke dalam usus.Selain Tubula Malpighi, ekskresi lainnya dilakukan dengan kelenjar koksal.Kelenjar koksal merupakan kelenjar ekskretori buntu yang bermuara pada daerah koksa (segmen pada kaki insecta).
Myriapoda
Myriapoda (dalam bahasa yunani, myria = banyak, podos = kaki) merupakan hewan berkaki banyak.Hewan kaki seribu adalah salah satunya yang terkadang kita lihat di lingkungan sekitar kita.Myriapoda hidup di darat pada tempat lembap, misalnya di bawah daun, batu, atau tumpukan kayu.Bagian tubuh Myriapoda sulit dibedakan antara toraks dan abdomen.Tubuhnya memanjang seperti cacing.
Pada kaput terdapat antena, mulut, dan satu pasang mandibula (rahang bawah), dua pasang maksila (rahang atas), dan mata yang berbentuk oseli (mata tunggal).Tubunya bersegmen dengan satu hingga dua pasang anggota badan pada tiap segmennya.Setiap segmen terdapat lubang respirasi yang disebut spirakel yang menuju ke trakea.Ekskresinya dengan tubula malpighi.Myriapoda bersifat dioseus dan melakukan repsroduksi seksual secara internal.Myriapoda dibedakan menjadi dua ordo, yaitu Chilopoda dan Diplopoda.
Chilopoda
Kelompok hewan ini dikenal sebagai kelabang.Tubuhnya memanjang dan agak pipih.Pada kepalanya terdapat antena dan mulut dengan sepasang mandibula dan dua pasang maksila.Pada tiap segmen tubuhnya terdapat kaki dan sepasang spirakel.Pasangan pertama kaki termodifikasi menjadi alt beracun.Alat penyengat digunakan unutk menyengat musuh atau pengganggunya.Sengatannya menimbulkan bengkak dan rasa sakit.Contoh hewan ini adalah kelabang (scutigera sp.).
Diplopoda
Hewan pada ordo ini dikenal dengan kaki seribu, meskipun jumlah kakinya bukan berjumlah seribu.Ada yang menyebutkan nama lain seperti keluwing.Tubuhnya bulat panjang.Mulutnya terdiri dari dua pasang maksila dan bibir bawah.Pada tiap segmen tubuhnya terdapat dua pasang kaki dan dua pasang spirakel.Diplopoda tidak memiliki cakar beracun karenanya hewan ini bersifat hebivora atau pemakan sisa organisme.Gerakkan hewan ini lambat dengan kaki yang bergerak seperti gelombang.Bila terganggu hewan ini akan menggulungkan tubuhnya dan pura-pura mati.Contoh hewan ini adalah kaki seribu(lulus sp.).
Crustacea
Crustacea (dalam bahasa latinnya, crusta = kulit) memiliki kulit yang keras.Udang, lobster, dan kepiting adalah contoh kelompok ini.
Umumnya hewan Crustacea merupakan hewan akuatik, meskipun ada yang hidup di darat.Crustacea dibedakan menjadi dua subkelas berdasarkan ukuran tubuhnya, yaitu Entomostraca dan Malacostraca.
Entomostraca
Entomostraca adalah crustacea yang berukuran mikroskopik, hidup sebagai zooplankton atau bentos di perairan, dan juga ada yang sebagai parasit.Contoh hewan ini adalah Daphnia, Cypris virens, dan Cyclops sp.
Malacostraca
Malacostraca adalah crustacea yang berukuran lebih besar dari pada entomostraca.Hewan yang termasuk kelompok ini adalah Udang, lobster, dan kepiting.Berikut akan dibahas sedikit mengenai urain hewan kelompok satu ini.
Udang memiliki ekssoskeleton yang keras untuk melindungi tubuhnya.Tubuhnya terdiri dari dua bagian, yaitu kaput dan toraks yang menyatu membentuk sefalotoraks, serta abdomen.Dibagian sefalotoraks dilindungi oleh eksoskeleton yang keras berupa karapaks.Karapaks memiliki duri di ujung anterior yang disebut rostrum.Di dekat rostrum terdapar mata faset ( majemuk) yang bertangkai.Pada kaput sefalotoraks merupakan penyatuan lima segmen.Dibagian kaput terdapat sepasang antenula, sepasang antena, dan tiga pasang bagian mulut.Antenula berfungsi sebagai alat peraba, sedangkan antena sebagai alat keseimbangan tubuh.Tiga pasang mulut terdiri dari sepasang mandibula dan dua pasang maksila.Pada bagian toraks terdiri dari delapan segmen, terdapat tiga pasang maksiliped, sepasang seliped, dan empat pasang kaki jalan(periopod).
Maksiliped tersebut berfungsi sebgai penyaring makanan.Seliped berfungsi untuk mencari makanan dan melindungi diri dari musuh.Pada bagian abdomen terdapat lima pasang kaki renang (pleopod).Pada ujung posterior terdapat telson dan sepasang alat kemudi untuk berenang (urupod).Pada udang jantan, pasangan pleopod 1 dan 2 bersatu menjadi gonopod.Gonopod berfungsi sebagai penyalur sperma saat kopulasi.Sedangkan pada wanita berfungsi untuk melekatkan telur dan membawa anaknya.Saluran pencernaan udang terdiri dari mulut, esofagus, lambung, usus, dan anus.Mulut dan esofagus terletak di bagian bawah sefalotoraks.Lambung ( terletak di sefalotoraks ) dan usus ( terletak di abdomen ) berada disepanjang bagian dorsal tubuh.Hati yang merupakan kelanjar pencernaan terletak di bagian toraks dan abdomen.makanan udang berupa berudu, larva, serangga, dan ikan-ikan kecil.Sisa metabolisme dikeluarkan melalui alat kelenjar hijau yang terletak di kepalanya.Pernapasan dilakukan dengan insang yang terdapat di bagian ventral tubuhnya dekat kaki.Sistem peredaran darah terdiri dari jantung, pembuluh darah, dan sinus yang rongganya berdinding tipis.Organ kelamin bersifat dioseus.
Insecta
Insecta (dalam bahasa latin, insecti = serangga).Banyak anggota hewan ini sering kita jumpai disekitar kita, misalnya kupu-kupu, nyamuk, lalat, lebah, semut, capung, jangkrik, belalang,dan lebah.Ciri khususnya adalah kakinya yang berjumlah enam buah.
Karena itu pula sering juga disebut hexapoda.
Insecta dapat hidup di bergagai habitat, yaitu air tawar, laut dan darat.Hewan ini merupakan satu-satunya kelompok invertebrata yang dapat terbang.Insecta ada yang hidup bebas dan ada yang sebagai parasit.
Tubuh Insecta dibedakan menjadi tiga bagian, yaitu kaput, toraks, dan abdomen.Kaput memiliki organ yang berkembang baik, yaitu adanya sepasang antena, mata majemuk (mata faset), dan mata tunggal (oseli).Insecta memiliki organ perasa disebut palpus.
Insecta yang memiliki syap pada segmen kedua dan ketiga.Bagian abdomen Insecta tidak memiliki anggota tubuh.Pada abdomennya
terdapat spirakel, yaitu lubang pernapasan yang menuju tabung trakea.Trakea merupakan alat pernapasan pada Insecta.Pada abdomen juga terdapat tubula malpighi, yaitu alt ekskresi yang melekat pada posterior saluran pencernaan.Sistem sirkulasinya terbuka.Organ kelaminnya dioseus.
*Perkembangan Insecta dibedakan menjadi tiga :
Pertama Ametabola adalah perkembangan yang hanya berupa pertambahan ukuran saja tanpa perubahan wujud.Contohnya kutu buku (lepisma saccharina)
Kedua Hemimetabola adalah tahap perkembangan Insecta yang tidak sempurna, dimana Insecta muda yang menetas mirip dengan induknya, tetapi ada organ yang belum muncul, misalnya sayap.Sayap itu akan muncul hingga pada saat dewasa hewan tersebut.
Insecta muda disebut nimfa.Ringkasan skemanya adalah telur – nimfa (larva) – dewasa (imago).Contoh Insecta ini adalah belalang, kecoa (periplaneta americana), jangkrik (gryllus sp.), dan walang sangit (leptocorisa acuta).
Ketiga Holometabola adalah perkembangan Insecta dengan setiap tahap menunjukan perubahan wujud yang sanagt berbeda (sempurna).
Tahapnya adalah sebagai berikut ; telur – larva – pupa – dewasa.Larvanya berbentuk ulat tumbuh dan mengalami ekdisis beberapa kali.
Setalah itu larva menghasilkan pelindung keras disekuur tubuhnya untuk membentuk pupa..Pupa berkembang menjadi bagian tubuh seperti antena, sayap, kaki, organ reproduksi, dan organ lainnya yang merupakan struktur Insecta dewasa.Selanjutnya, Insecta dewasa keluar dari pupa.Contoh Insecta ini adalah kupu-kupu, lalat, dan nyamuk.
*Berdasarkan sayap,Insecta dibedakan menjadi dua sub-kelas :
Pertama Apterigota (tidak bersayap), tubuh apterigota berukuran kecil sekitar 0,5 cm dan memiliki antena panjang.Umumnya berkembang secara ametabola.Contoh hewan kelas ini adalah kutu buku.
Kedua Pterigota (bersayap), merupakan kelompok insecta yang sayapnya berasal dari tonjolan luar dinding tubuh yang disebut Eksopterigota.Kelompok lain yang sayapnya berasal dari tonjolan dalam dinding tubuh disebut Endopterigota.
Eksopterigota dibedakan menjadi beberapa ordo bedasarkan tipe sayap, mulut, dan metamorfosisnya :
- Orthoptera memiliki dua pasang sayap dengan sayap depan yang sempit.Misalnya kecoa, jangkrik, dan gansir
- Hemiptera memiliki dua pasang sayap yang tidak sama panjang.Contohnya walang sangit (leptocorisa acuta) dan kutu busuk (cymex rotundus)
- Homoptera memiliki dua pasang yang sama panjang.Contohnya wereng coklat (Nilaparvata lugens), kutu daun (Aphis), dan kutu kepala (Pediculus humanus)
- Odonata memiliki dua pasang sayap seperti jala.Contohnya capung (pantala).
Endopterigota dibedakan menjadi :
- Coleptera memiliki dua pasang sayap dengan sayap depan yang keras dan tebal.Misalnya kumbang tanduk (Orycies rhinoceros) dan kutu gabah (Rhyzoperta diminica)
- Hymenoptera memiliki dua pasang sayap yang seperti selaput, dengan sayap depan lebih besar daripada sayap belakang.
Misalnya semut rangrang (Oecophylla saragillina), semut hitam (Monomorium sp.), lebah madu (Apis indica), dan tawon (Xylocopa latipes)
- Diptera hanya memiliki sepasang sayap.Misalnya nyamuk (culex sp.), nyamuk malaria (Anopheles sp), nyamuk demam berdarah (Aedes Aegypti), lalat rumah (Musca domestica), lalat buah (Drosophila melanogaster), dan lalat tse-tse (Glossina palpalis)
- Lepidoptera memiliki dua pasang sayap yang bersisik halus dan tipe mulut mengisap.Misalnya kupu-kupu sutera (Bombyx mori) dan kupu-kupu elang (Acherontia atropos)
Peran Arthropoda bagi manusia
Berbagai jenis Arthropoda memberikan keuntungan dan kerugian bagi manusia.Peran arthropoda yang menguntungkan manusia misalnya dibidang pangan dan sandang yaitu sebagai berikut :
-Sumber makanan yang mengandung protein hewani tinggi.Misalnya Udang windu (Panaeus monodon), rajingan (portunus pelagicus), kepiting (scylla serrata), dan udang karang (panulirus versicolor)
-Penghasil madu, yaitu lebah madu (Apis indica)
-Bahan industri kain sutera, yaitu pupa kupu-kupu sutera (Bombyx mori)
Sementara yang merugikan manusia anatara lain :
-Vektor perantara penyakit bagi manusia.Misalnya nyamuk malaria, nyamuk demam berdarah, lalat tsetse sebagai vektor penyakit tidur, dan lalat rumah sebagai vektor penyakit tifus.
-Menimbulkan gangguan pada manusia.Misalnya caplak penyebab kudis, kutu kepala, dan kutu busuk
-Hama tanaman pangan dan industri.Contohnya wereng coklat dan kumbang tanduk
-Perusak makanan.Contohnya kutu gabah
-Perusak produk berbahan baku alam.Contohnya rayap dan kutu buku
Ciri tubuh
Ciri tubuh Arthropoda meliputi ukuran, bentuk, struktur, dan fungsi tubuh.
Ukuran dan bentuk tubuh
Ukuran tubuh Arthropoda sangat beragam, beberapa diantaranya memiliki panjang lebih dari 60 cm., namun kebanyakan berukuran kecil.Begitu pula dengan bentuk Arthropoda pun beragam.
Struktur tubuh
Tubuh Arthropoda bersegmen dengan jumlah segmen yang bervariasi.Pada tiap segmen tubuh tersebut terdapat sepasang kaki yang beruas.Segmen bergabung membentuk bagian tubuh, yaitu Kaput (kepala), toraks (dada), dan abdomen (perut).
Ciri lain dari Arthropoda adalah adanya kutikula keras yang membentuk rangka luar (eksoskeleton).Eksoskeleton tersusun dari kitin yang di sekresikan oleh sel kulit.Eksoskeleton melekat pada kulit membentuk perlindungan tubuh yang kuat.
Eksoskeleton terdiri dari lempengan-lempengan yang dihubungkan oleh ligamen yang fleksibel dan lunak.Eksoskeleton tidak dapat membesar mengikuti pertumbuhan tubuh.Oleh karena itu, tahap pertumbuhan Arthropoda selalu diikuti dengan pengelupasan eksoskeleton lama dan pembentukan eksoskeleton baru.Tahap pelepasan eksoskeleton disebut dengan molting atau ekdisis.Hewan yang biasanya melakukan ekdisis misalnya kepiting, udang, dan laba-laba.
Sistem saraf Arthropoda berupa sistem saraf tangga tali berjumlah sepasang yang berada di sepanjang sisi ventral tubuhnya.
Pada berbagai tempat di segmen tubuh, ada pembesaran saraf tangga tali yang disebut ganglia.Ganglia berfungsi sebagai pusat refleks dan pengendalian berbagai kegiatan.Ganglia bagian anterior yang lebih besar berfungsi sebagai otak.
Sistem pencernaan Arthropoda terdiri dari mulut, esofagus, lambung, usus, dan anus.Mulutnya dilangkapi dengan berbagai alat tambahan yang beragam, misalnya mandibula dan maksila pada belalang.
Arthropoda bernapas dengan insang, trakea, atau paru-paru buku.Sisa metabolisme berupa cairan dikeluarkan oleh organ ekskresi yang disebut saluran/tubula Malpighi, kelenjar ekskresi, atau keduanya.Sistem sirkulasi Arthropoda bersifat terbuka.Sistem sirkulasi terdiri dari jantung, pembuluh darah pendek, dan ruang disekitar organ tubuh yang disebut sinus atau hemosol.Darah Arthropoda disebut juga hemolimfa.
Cara hidup dan habitat
Cara hidup Arthropoda sangat beragam, ada yang hidup bebas, parasit, komensal, atau simbiotik.Dilingkungan kita, sering dijumpai kelompok hewan ini, misalnya nyamuk, lalat, semut, kupu-kupu, capung, belalang, dan lebah.
Habitat penyebaran Arthropoda sangat luas.Ada yang di laut, periran tawar, gurun pasir, dan padang rumput.
Reproduksi
Sistem reproduksi Arthropoda umumnya terjadi secara seksual.Namun ada juga yang secara aseksual, yaitu dengan partenogenesis.
Partenogenesis adalah pembentukan individu baru tanpa melalui fertilisasi (pembuahan).Individu yang dihasilkan bersifat steril.Organ reproduksi jantan dan betina pada Arthropoda terpisah, masing-masing menghasilkan gamet pada individu yang berbeda sehingga bersifat dioseus (berumah dua).Hasil fertilisasi berupa telur.
Klasifikasi
Arthropoda diklasifikasikan menjadi 20 kelas berdasarkan struktur tubuh dan kaki.Berikut ini akan diuraikan empat kelas diantaranya yang paling umum, yaitu Kelas Arachnoidea, Myriapoda, Crustacea, dan Insecta.
Arachnoidea
Arachnoidea (dalam bahasa yunani, arachno = laba-laba) disebut juga kelompok laba-laba, meskipun anggotanya bukan laba-laba saja.Kalajengking adalah salah satu contoh kelas Arachnoidea yang jumlahnya sekitar 32 spesies.Ukuran tubuh Arachnoidea bervariasi, ada yang panjangnya lebih kecil dari 0,5 mm sampai 9 cm.Arachnoidea merupakan hewan terestrial (darat) yang hidup secara bebas maupun parasit.Arachnoidea yang hidup bebas bersifat karnivora.Arachnoidea dibedakan menjadi tiga ordo, yaitu Scorpionida, Arachnida, dan Acarina.Scorpionida memiliki alat penyengat beracun pada segmen abdomen terakhir, contoh hewan ini adalah kalajengking (Uroctonus mordax) dan ketunggeng ( Buthus after).Pada Arachnida, abdomen tidak bersegmen dan memiliki kelenjar beracun pada kaliseranya (alat sengat), contoh hewan ini adalah Laba-laba serigala (Pardosa amenata), laba-laba kemlandingan (Nephila maculata).Acarina memiliki tubuh yang sangat kecil, contohnya adalah caplak atau tungau (Acarina sp.).
Berikut adalah ciri-ciri dari salah satu hewan Arachnoidea yang sering kita jumpai, yaitu laba-laba.Tubuhnya terdiri dari dua bagian, yaitu sefalotoraks (kepala-dada) pada bagian anterior dan abdomen pada bagian posterior.Sefalotoraks adalah penyatuan tubuh bagian sefal atau kaput (kepala) dan bagian toraks (dada).Pada sefalotoraks terdapat sepasang kalisera (alat sengat), sepasang pedipalpus (capit), dan enam pasang kaki untuk berjalan.Kalisera dan pedipalpus merupakan alat tambahan pada mulut.
Pada bagian abdomen (opistosoma) laba-laba terdiri dari mesosoma dan metasoma.Pada bagian posterior abdomen terdapat spineret yang merupakan organ berbentuk kerucut dan dapat berputar bebas.Didalam spineret terdapat banyak spigot yang merupakan lubang pengeluaran kelenjar benang halus atau kelenjar benang abdomen.Kelenjar benang halus mensekresikan cairan yang mengandung protein elastik.Protein elastik tersebut akan mengeras di udara membentuk benang halus yang digunakan untuk menjebak mangsa.
Laba-laba bernapas dengan paru-paru buku atau trakea.Paru-paru buku adalah organ respirasi berlapis banyak seperti buku dan terletak pada bagian abdomen.Ekskresi laba-laba dilakukan dengan tubula ( tunggal = tubulus ) Malpighi.Tubula Malpighi merupakan tabung kecil panjang dan buntu dan organ ini terletak di dalam hemosol yang bermuara ke dalam usus.Selain Tubula Malpighi, ekskresi lainnya dilakukan dengan kelenjar koksal.Kelenjar koksal merupakan kelenjar ekskretori buntu yang bermuara pada daerah koksa (segmen pada kaki insecta).
Myriapoda
Myriapoda (dalam bahasa yunani, myria = banyak, podos = kaki) merupakan hewan berkaki banyak.Hewan kaki seribu adalah salah satunya yang terkadang kita lihat di lingkungan sekitar kita.Myriapoda hidup di darat pada tempat lembap, misalnya di bawah daun, batu, atau tumpukan kayu.Bagian tubuh Myriapoda sulit dibedakan antara toraks dan abdomen.Tubuhnya memanjang seperti cacing.
Pada kaput terdapat antena, mulut, dan satu pasang mandibula (rahang bawah), dua pasang maksila (rahang atas), dan mata yang berbentuk oseli (mata tunggal).Tubunya bersegmen dengan satu hingga dua pasang anggota badan pada tiap segmennya.Setiap segmen terdapat lubang respirasi yang disebut spirakel yang menuju ke trakea.Ekskresinya dengan tubula malpighi.Myriapoda bersifat dioseus dan melakukan repsroduksi seksual secara internal.Myriapoda dibedakan menjadi dua ordo, yaitu Chilopoda dan Diplopoda.
Chilopoda
Kelompok hewan ini dikenal sebagai kelabang.Tubuhnya memanjang dan agak pipih.Pada kepalanya terdapat antena dan mulut dengan sepasang mandibula dan dua pasang maksila.Pada tiap segmen tubuhnya terdapat kaki dan sepasang spirakel.Pasangan pertama kaki termodifikasi menjadi alt beracun.Alat penyengat digunakan unutk menyengat musuh atau pengganggunya.Sengatannya menimbulkan bengkak dan rasa sakit.Contoh hewan ini adalah kelabang (scutigera sp.).
Diplopoda
Hewan pada ordo ini dikenal dengan kaki seribu, meskipun jumlah kakinya bukan berjumlah seribu.Ada yang menyebutkan nama lain seperti keluwing.Tubuhnya bulat panjang.Mulutnya terdiri dari dua pasang maksila dan bibir bawah.Pada tiap segmen tubuhnya terdapat dua pasang kaki dan dua pasang spirakel.Diplopoda tidak memiliki cakar beracun karenanya hewan ini bersifat hebivora atau pemakan sisa organisme.Gerakkan hewan ini lambat dengan kaki yang bergerak seperti gelombang.Bila terganggu hewan ini akan menggulungkan tubuhnya dan pura-pura mati.Contoh hewan ini adalah kaki seribu(lulus sp.).
Crustacea
Crustacea (dalam bahasa latinnya, crusta = kulit) memiliki kulit yang keras.Udang, lobster, dan kepiting adalah contoh kelompok ini.
Umumnya hewan Crustacea merupakan hewan akuatik, meskipun ada yang hidup di darat.Crustacea dibedakan menjadi dua subkelas berdasarkan ukuran tubuhnya, yaitu Entomostraca dan Malacostraca.
Entomostraca
Entomostraca adalah crustacea yang berukuran mikroskopik, hidup sebagai zooplankton atau bentos di perairan, dan juga ada yang sebagai parasit.Contoh hewan ini adalah Daphnia, Cypris virens, dan Cyclops sp.
Malacostraca
Malacostraca adalah crustacea yang berukuran lebih besar dari pada entomostraca.Hewan yang termasuk kelompok ini adalah Udang, lobster, dan kepiting.Berikut akan dibahas sedikit mengenai urain hewan kelompok satu ini.
Udang memiliki ekssoskeleton yang keras untuk melindungi tubuhnya.Tubuhnya terdiri dari dua bagian, yaitu kaput dan toraks yang menyatu membentuk sefalotoraks, serta abdomen.Dibagian sefalotoraks dilindungi oleh eksoskeleton yang keras berupa karapaks.Karapaks memiliki duri di ujung anterior yang disebut rostrum.Di dekat rostrum terdapar mata faset ( majemuk) yang bertangkai.Pada kaput sefalotoraks merupakan penyatuan lima segmen.Dibagian kaput terdapat sepasang antenula, sepasang antena, dan tiga pasang bagian mulut.Antenula berfungsi sebagai alat peraba, sedangkan antena sebagai alat keseimbangan tubuh.Tiga pasang mulut terdiri dari sepasang mandibula dan dua pasang maksila.Pada bagian toraks terdiri dari delapan segmen, terdapat tiga pasang maksiliped, sepasang seliped, dan empat pasang kaki jalan(periopod).
Maksiliped tersebut berfungsi sebgai penyaring makanan.Seliped berfungsi untuk mencari makanan dan melindungi diri dari musuh.Pada bagian abdomen terdapat lima pasang kaki renang (pleopod).Pada ujung posterior terdapat telson dan sepasang alat kemudi untuk berenang (urupod).Pada udang jantan, pasangan pleopod 1 dan 2 bersatu menjadi gonopod.Gonopod berfungsi sebagai penyalur sperma saat kopulasi.Sedangkan pada wanita berfungsi untuk melekatkan telur dan membawa anaknya.Saluran pencernaan udang terdiri dari mulut, esofagus, lambung, usus, dan anus.Mulut dan esofagus terletak di bagian bawah sefalotoraks.Lambung ( terletak di sefalotoraks ) dan usus ( terletak di abdomen ) berada disepanjang bagian dorsal tubuh.Hati yang merupakan kelanjar pencernaan terletak di bagian toraks dan abdomen.makanan udang berupa berudu, larva, serangga, dan ikan-ikan kecil.Sisa metabolisme dikeluarkan melalui alat kelenjar hijau yang terletak di kepalanya.Pernapasan dilakukan dengan insang yang terdapat di bagian ventral tubuhnya dekat kaki.Sistem peredaran darah terdiri dari jantung, pembuluh darah, dan sinus yang rongganya berdinding tipis.Organ kelamin bersifat dioseus.
Insecta
Insecta (dalam bahasa latin, insecti = serangga).Banyak anggota hewan ini sering kita jumpai disekitar kita, misalnya kupu-kupu, nyamuk, lalat, lebah, semut, capung, jangkrik, belalang,dan lebah.Ciri khususnya adalah kakinya yang berjumlah enam buah.
Karena itu pula sering juga disebut hexapoda.
Insecta dapat hidup di bergagai habitat, yaitu air tawar, laut dan darat.Hewan ini merupakan satu-satunya kelompok invertebrata yang dapat terbang.Insecta ada yang hidup bebas dan ada yang sebagai parasit.
Tubuh Insecta dibedakan menjadi tiga bagian, yaitu kaput, toraks, dan abdomen.Kaput memiliki organ yang berkembang baik, yaitu adanya sepasang antena, mata majemuk (mata faset), dan mata tunggal (oseli).Insecta memiliki organ perasa disebut palpus.
Insecta yang memiliki syap pada segmen kedua dan ketiga.Bagian abdomen Insecta tidak memiliki anggota tubuh.Pada abdomennya
terdapat spirakel, yaitu lubang pernapasan yang menuju tabung trakea.Trakea merupakan alat pernapasan pada Insecta.Pada abdomen juga terdapat tubula malpighi, yaitu alt ekskresi yang melekat pada posterior saluran pencernaan.Sistem sirkulasinya terbuka.Organ kelaminnya dioseus.
*Perkembangan Insecta dibedakan menjadi tiga :
Pertama Ametabola adalah perkembangan yang hanya berupa pertambahan ukuran saja tanpa perubahan wujud.Contohnya kutu buku (lepisma saccharina)
Kedua Hemimetabola adalah tahap perkembangan Insecta yang tidak sempurna, dimana Insecta muda yang menetas mirip dengan induknya, tetapi ada organ yang belum muncul, misalnya sayap.Sayap itu akan muncul hingga pada saat dewasa hewan tersebut.
Insecta muda disebut nimfa.Ringkasan skemanya adalah telur – nimfa (larva) – dewasa (imago).Contoh Insecta ini adalah belalang, kecoa (periplaneta americana), jangkrik (gryllus sp.), dan walang sangit (leptocorisa acuta).
Ketiga Holometabola adalah perkembangan Insecta dengan setiap tahap menunjukan perubahan wujud yang sanagt berbeda (sempurna).
Tahapnya adalah sebagai berikut ; telur – larva – pupa – dewasa.Larvanya berbentuk ulat tumbuh dan mengalami ekdisis beberapa kali.
Setalah itu larva menghasilkan pelindung keras disekuur tubuhnya untuk membentuk pupa..Pupa berkembang menjadi bagian tubuh seperti antena, sayap, kaki, organ reproduksi, dan organ lainnya yang merupakan struktur Insecta dewasa.Selanjutnya, Insecta dewasa keluar dari pupa.Contoh Insecta ini adalah kupu-kupu, lalat, dan nyamuk.
*Berdasarkan sayap,Insecta dibedakan menjadi dua sub-kelas :
Pertama Apterigota (tidak bersayap), tubuh apterigota berukuran kecil sekitar 0,5 cm dan memiliki antena panjang.Umumnya berkembang secara ametabola.Contoh hewan kelas ini adalah kutu buku.
Kedua Pterigota (bersayap), merupakan kelompok insecta yang sayapnya berasal dari tonjolan luar dinding tubuh yang disebut Eksopterigota.Kelompok lain yang sayapnya berasal dari tonjolan dalam dinding tubuh disebut Endopterigota.
Eksopterigota dibedakan menjadi beberapa ordo bedasarkan tipe sayap, mulut, dan metamorfosisnya :
- Orthoptera memiliki dua pasang sayap dengan sayap depan yang sempit.Misalnya kecoa, jangkrik, dan gansir
- Hemiptera memiliki dua pasang sayap yang tidak sama panjang.Contohnya walang sangit (leptocorisa acuta) dan kutu busuk (cymex rotundus)
- Homoptera memiliki dua pasang yang sama panjang.Contohnya wereng coklat (Nilaparvata lugens), kutu daun (Aphis), dan kutu kepala (Pediculus humanus)
- Odonata memiliki dua pasang sayap seperti jala.Contohnya capung (pantala).
Endopterigota dibedakan menjadi :
- Coleptera memiliki dua pasang sayap dengan sayap depan yang keras dan tebal.Misalnya kumbang tanduk (Orycies rhinoceros) dan kutu gabah (Rhyzoperta diminica)
- Hymenoptera memiliki dua pasang sayap yang seperti selaput, dengan sayap depan lebih besar daripada sayap belakang.
Misalnya semut rangrang (Oecophylla saragillina), semut hitam (Monomorium sp.), lebah madu (Apis indica), dan tawon (Xylocopa latipes)
- Diptera hanya memiliki sepasang sayap.Misalnya nyamuk (culex sp.), nyamuk malaria (Anopheles sp), nyamuk demam berdarah (Aedes Aegypti), lalat rumah (Musca domestica), lalat buah (Drosophila melanogaster), dan lalat tse-tse (Glossina palpalis)
- Lepidoptera memiliki dua pasang sayap yang bersisik halus dan tipe mulut mengisap.Misalnya kupu-kupu sutera (Bombyx mori) dan kupu-kupu elang (Acherontia atropos)
Peran Arthropoda bagi manusia
Berbagai jenis Arthropoda memberikan keuntungan dan kerugian bagi manusia.Peran arthropoda yang menguntungkan manusia misalnya dibidang pangan dan sandang yaitu sebagai berikut :
-Sumber makanan yang mengandung protein hewani tinggi.Misalnya Udang windu (Panaeus monodon), rajingan (portunus pelagicus), kepiting (scylla serrata), dan udang karang (panulirus versicolor)
-Penghasil madu, yaitu lebah madu (Apis indica)
-Bahan industri kain sutera, yaitu pupa kupu-kupu sutera (Bombyx mori)
Sementara yang merugikan manusia anatara lain :
-Vektor perantara penyakit bagi manusia.Misalnya nyamuk malaria, nyamuk demam berdarah, lalat tsetse sebagai vektor penyakit tidur, dan lalat rumah sebagai vektor penyakit tifus.
-Menimbulkan gangguan pada manusia.Misalnya caplak penyebab kudis, kutu kepala, dan kutu busuk
-Hama tanaman pangan dan industri.Contohnya wereng coklat dan kumbang tanduk
-Perusak makanan.Contohnya kutu gabah
-Perusak produk berbahan baku alam.Contohnya rayap dan kutu buku
PTERYDOPHYTA atau Tumbuhan Paku
PTERIDOPHYTA atau TUMBUHAN PAKU
06.39 No Commen
Berdasarkan spora yang dihasilkan dikenal 3 jenis tumbuhan paku, yaitu:
Paku Homosfor atau Isospor >> menghasilkan satu jenis spora saja, misalnya paku kawat (Lycopodium clavatum).
Paku Heterospor >> menghasilkan dua jenis spora yaitu: mikrospora (jantan) dan makrospora (betina), misalnya paku rane (Selaginella wildenowii) dan semanggi (Marsilea crenata).
Paku Peralihan >> menghasilkan spora yang bentuk dan ukurannya sama (isospora) tetapi sebagian jantan dan sebagian betina (heterospora), misalnya paku ekor kuda (Equisetum debile)
Akar tumbuhan paku berupa akar serabut. Pada akar paku, xilem terdapat di tengah dikelilingi floem membentuk berkas pembuluh angkut yang konsentris.
Batangnya jarang tumbuh tegak di atas tanah, kecuali pada paku tiang (Alsopila sp. dan Cyathea sp.). Batang tersebut kebanyakan berupa akar tongkat (Rhizoma). Tipe berkas pembuluh angkut batang sama dengan akar, yaitu tipe konsentris.
BERMACAM-MACAM DAUN PAKU
- daun yang kecil-kecil disebut Mikrofil- daun yang besar-besar disebut Makrofil dan telah mempunyai daging daun (Mesofil)- daun yang khusus untuk asimilasi disebut Tropofil- daun yang khusus menghasilkan spora disebut Sporofil
ISITILAH LAIN
- Sporangium adalah kotak spora- Sorus adalah badan tempat berkumpulnya kotak spora- Indusium adalah selpaut yang menlindungi sorus muda -> ciri paku
Perkembangbiakan paku tergolong Metagenesis. Berbeda dengan lumut, yang sehari-hari kita sebut sebagai tanaman paku adalah fase sporofit-nya. Tumbuhan paku yang ada di bumi ini mempunyai masa kejayaan dalam zaman Paileozoikum, terutama dalam zaman karbon -> disebut zaman paku. Sisa-sisanya sekarang dapat digali sebagai batubara.
SPESIES-SPESIES PAKU
Sebagai tanaman hiasan :- Platycerium nidus (paku tanduk rusa)- Asplenium nidus (paku sarang burung)
- Adiantum cuneatum (suplir)- Selaginella wildenowii (paku rane)
Sebagai bahan penghasil obat-obatan :- Asipidium filix-mas- Lycopodium clavatum
Sebagai sayuran :- Marsilea crenata (semanggi)- Salvinia natans (paku sampan = kiambang)
Sebagai pupuk hijau :- Azolla pinnata >> bersimbiosis dengan anabaena azollae (gangang biru)
Sebagai pelindugn tanaman di persemaian :- Gleichenia linearis
Ciri-ciri Pteridophyta
Pergiliran generasi: sporofit & gametofit
Gererasi sporofit à akar, batang, daun, berkas pembuluh (xilem & floem), kromosom 2n, dominan
Generasi gametofit à talus, kromosom n, umur pendek, lekas mati
Pembiakan:
seksual arkegonium à ovum
(protalium) anteridium à spermatozoid
aseksual à spora homo/isospora
heterospora
Klasifikasi Pteridophyta
1. Kelas Equisetinae (Articulatae)
Famili Equisetaceae
2. Kelas Lycopodiinae
Famili Lycopodiaceae
Famili Selaginellaceae
3. Kelas Psilotinae
Famili Psilotaceae
4. Kelas Isotinaceae
5. Kelas Filicinae
a. Sub Kelas Eusporangiatae
Famili Ophioglossaceae
b. Sub Kelas Leptosporangiatae
Famili Polypodiaceae
Famili Marsilliaceae
Famili Salviniaceae
Famili Equisetaceae
= paku ekor kuda
Batang: berbuku-buku, berongga, tiap buku mempunyai daun kecil (seperti sisik), duduk daun dalam lingkaran
Mempunyai rhizoma
Homospora, spora terdapat dalam sporangium. Sporangium terdapat dalam strobilus (kumpulan sporofil), letak terminal. Tiap sporangium terdiri dari 4 elater yang higroskopis à mempermudah penyebaran spora
Sel epidermis batang bagian luar mengandung zat kersik à sebagai abu gosok
Contoh:
v Equisetum arvense à Equiseti Herba
(diuretik)
v Equisetum debile à greges otot
v Equisetum pratense
E. arvense E. debile E. pratense
Famili Lycopodiaceae
• = paku kawat = paku rambat
• Herba (menyerupai lumut), percabangan dikotomi
• Daun kecil (mikrofil), dalam lingkaran, tidak bertangkai
• Homospora, sporangium terletak pada basis sporofil. Sporofil dapat menyusun strobilus
Contoh:
Lycopodium clavatum
à “Lycopodium” (spora kering)
untuk pembalut pil
Lycopodium cernuum
L. clavatum L. cernuum
Famili Selaginellaceae
= paku rane = paku lumut
Sebagian batang berbaring, sebagian tegak, bercabang menggarpu anisotom
Heterospora, protalium jauh mengalami reduksi
Rangkaian sporofil terminal berupa bulir tunggal atau bercabang
Contoh:
ü Selaginella willdenowii
ü Selaginella caudata
ü Selaginella plana
Famili Psilotaceae
paku telanjang à belum terdapat daun
Herba kecil tendah, percabangan dikotom
Tidak berakar, hanya tunas tanah dengan rizoid
Daun kecil (mikrofil) berbentuk sisik, tidak bertulang, tersusun jarang dalam garis spiral
Sporangium tidak terminal, tapi di antara tajuk sporofil yang berbagi menggarpu
Spermatozoid memiliki flagel
Contoh:
Psilotum nudum Psilotum triquetrum Tmesipteris tannensis
Kelas Filicinae
= paku = pakis
Higrofit à penyusun undergrowth dalam hutan di daerah pegunungan dan hutan subtropik basah
Daun besar (makrofil), bertangkai, mempunyai banyak tulang
Sporangium terdapat pada sisi bawah daun
Famili Ophioglossaceae
Homospora, protalium berumah satu, tidak mengandung klorofil, di dalam tanah
Hidup sebagai saprofit dengan pertolongan cendawan mikoriza
Habitat: paku tanah atau epifit
Contoh:
Botrychium ternatum Helminthostachys zeylanica
Famili Polypodiaceae
Kebanyakan herba, kadang pohon, mempunyai rhizoma
Daun monomorfik atau dimorfik, tunggal atau majemuk, daun muda bentuk spiral
Homospora. Spora dalam sporangium yang berkumpul membentuk sorus (sori). Sorus dibungkus indusium, terletak marginal atau dorsal dari sporofil. Sporangium berdinding tipis, bertangkai dan mempunyai annulus yang letaknya vertikal
Contoh:
Dryopteris filix-mas à Filices Rhizoma
(obat cacing pita)
Adiantum pedatum à Adianti Folium
(suplir)
Polypodium vulgare
Pteridium aquilinum
Platycerium bifurcatum
(simbar menjangan)
Pyrrosia nummularifolia & P. piloselloides
à sisik naga
Famili Marsileaceae
Herba, tergolong paku air
Hidup di air dangkal, berakar dalam tanah, jarang berupa tumbuhan darat sejati.
Jika hidup di darat à terbentuk seperti umbi
Batang seperti rimpang merayap à ke atas membentuk daun, ke bawah akar
Heterospora
(makrospora & mikrospora)
Contoh:
Marsilea crenata Pilularia globulifera
Famili Salviniaceae
v Paku air
v Sedikit bercabang
v Daun berkarang, tiap buku terdapat 3 daun. Dua daun di atas air, sisanya dalam air
v Sporangium terkumpul pada pangkal daun yang berada dalam air, @ terdiri dari satu sorus, terbungkus dinding yang homolog dengan indusium
Contoh:
Salvinia natans
Azolla pinnata
Daur Hidup Pterodophyta
a. paku yang Homospora
B. Paku yang heterospora
C. paku peralihan antara homospora dan heterospora
Lingkungan hidup pterydophita
tempat yang lembab
daerah tropis yang subtro[is
lereng-lereng gunung
air ( tawar )
Percobaan Kloning Manusia
Kloning era modern dimulai tahun 1958 saat ahli fisiologi tanaman Inggris RC Steward (1904 – 1993) mengklon tanaman wortel dari sel tunggal dewasa yang diletakkan dalam kultur nutrisi yang mengandung hormon. Kloning sel hewan pertama terjadi tahun 1964, saat ahli biologi molekuler inggris John B Gurdon (1933 – 1989) mengambil nukleus dari sel testis kecebong dan menyuntikkannya kedalam telur yang tidak subur. Nukleus sel ini dalam telur itu telah dihancurkan dengan sinar ultraviolet, tapi saat telur di erami, Gurdon menemukan kalau 1-2% dari telur tersebut berhasil berkembang menjadi katak dewasa yang subur.
Kloning mamalia pertama yang sukses terjadi hampir 20 tahun lalu, saat para ilmuan Swiss dan Amerika Serikat berhasil mengkloning tikus menggunakan metode yang sama dengan pendekatan Gurdon. Metode mereka memerlukan satu langkah tambahan, yaitu setelah mengambil nukleus dari janin semacam tikus, mereka mengirimnya kedalam janin tikus jenis lain. Tikus yang disuntikkan ini berperan sebagai ibu angkat. Kloning hewan ternak di coba juga tahun 1988, saat janin dari sapi juara di transplantasikan pada telur sapi yang tidak subur yang nukleusnya sendiri telah dibuang. Terobosan yang lebih besar lagi terjadi tanggal 24 februari 1997, dengan kelahiran seekor domba bernama Dolly di Edinburg, Skotlandia. Dolly bukan domba biasa : Ia adalah mamalia pertama yang lahir dari kloning sel dewasa. Jadi, ia direproduksi secara aseksual dalam bentuk kloning yang direkayasa genetik, ketimbang proses normal apapun. Hebatnya, ia menunjukkan kemampuan untuk bereproduksi gaya lama saat tanggal 23 april 1998, ia sendiri melahirkan anak bernama Bonnie.
Giliran Manusia?
Walau kelahiran Dolly dan Bonnie memunculkan harapan, mereka juga memunculkan rasa takut. Kalau mamalia besar saja seperti domba dapat di klon, apalagi manusia? Sejak tahun 1993 sudah ada usaha untuk mengkloning janin manusia sebagai bagian dari studi fertilisasi in vitro (perkawinan luar tubuh). Tujuannya untuk mengembangkan telur subur dalam tabung uji dan kemudian menanamkannya dalam rahim wanita yang tidak bisa hamil. Telur subur ini, walau begitu, tidak berkembang sampai tahap yang cocok untuk di transplantasikan ke rahim manusia.
Lalu tanggal 13 oktober 2001, para ilmuan dari Advanced Cell Technology di Worcester, Massachusetts, berhasil mengklon janin manusia. Mereka belum membuat hidup manusia, tapi mereka mengembangkan sumber jaringan syaraf dan jaringan lain yang dapat digunakan untuk kedokteran dan penelitian. Tetap saja berita itu sangat menggemparkan rakyat amerika dibalik tragedi serangan teroris 11 September. Sel manusia sudah bisa di reproduksi, dan sekali lagi tampak kalau produksi klon manusia itu mungkin dilakukan.
Mudah dipahami bagaimana orang merespon dengan hati-hati berita demikian. Ketakutan ini lebih berhubungan dengan hollywood daripada sains sih. Faktanya, pencapaian perusahaan dari Massachusetts tersebut, walaupun merupakan kemajuan ilmiah yang mengesankan, masih jauh dibandingkan citra Frankenstein yang dibangun oleh para anti rekayasa genetik. “Mengkloning janin” kedengarannya dramatis, padahal kenyataannya hanya satu janin yang baru mencapai ukuran enam sel sebelum sel tersebut berhenti membelah. Cuma enam sel! Ia bahkan ga dapat dilihat oleh mata tanpa mikroskop loh. Wew, jauh banget dari yang namanya tentara klon seperti di film Star Wars itu.
Kloning yang dilakukan oleh perusahaan dari Massachusetts itu adalah semacam kloning terapis, karena melibatkan produksi materi genetik untuk perawatan kondisi khusus. Itu jauh dari kloning yang bertujuan reproduktif, yang membutuhkan penanaman janin klon kedalam rahim – dan bahkan masih jauh banget dari citra klon yang dilahirkan dalam tabung uji tanpa orang tua satupun selain materi biologis yang dipakai untuk membuatnya.
Gagasan demikian terkait dengan visi dari novel Aldous Huxley tahun 1932 berjudul Brave New World daripada fakta ilmiah. Dan bahkan jika manusia ingin mengembangkan teknologi demikian, akan jauh sekali di masa depan. Bahkan bisa jadi “menciptakan kehidupan” lewat cara demikian adalah mustahil, bila ya, pencapaian demikian sama halnya saat dimana kita di masa depan berhasil pergi ke tata surya lain.
Ini bukan berarti kalau semua ketakutan kita pada kloning dan rekayasa genetika sebenarnya tidak beralasan; sebaliknya, itu adalah sebuah sikap skeptik yang penting. Menjadi skeptik itu bagus, sejauh kita punya alasan yang kuat untuk bersikap kritis.
Kloning mamalia pertama yang sukses terjadi hampir 20 tahun lalu, saat para ilmuan Swiss dan Amerika Serikat berhasil mengkloning tikus menggunakan metode yang sama dengan pendekatan Gurdon. Metode mereka memerlukan satu langkah tambahan, yaitu setelah mengambil nukleus dari janin semacam tikus, mereka mengirimnya kedalam janin tikus jenis lain. Tikus yang disuntikkan ini berperan sebagai ibu angkat. Kloning hewan ternak di coba juga tahun 1988, saat janin dari sapi juara di transplantasikan pada telur sapi yang tidak subur yang nukleusnya sendiri telah dibuang. Terobosan yang lebih besar lagi terjadi tanggal 24 februari 1997, dengan kelahiran seekor domba bernama Dolly di Edinburg, Skotlandia. Dolly bukan domba biasa : Ia adalah mamalia pertama yang lahir dari kloning sel dewasa. Jadi, ia direproduksi secara aseksual dalam bentuk kloning yang direkayasa genetik, ketimbang proses normal apapun. Hebatnya, ia menunjukkan kemampuan untuk bereproduksi gaya lama saat tanggal 23 april 1998, ia sendiri melahirkan anak bernama Bonnie.
Giliran Manusia?
Walau kelahiran Dolly dan Bonnie memunculkan harapan, mereka juga memunculkan rasa takut. Kalau mamalia besar saja seperti domba dapat di klon, apalagi manusia? Sejak tahun 1993 sudah ada usaha untuk mengkloning janin manusia sebagai bagian dari studi fertilisasi in vitro (perkawinan luar tubuh). Tujuannya untuk mengembangkan telur subur dalam tabung uji dan kemudian menanamkannya dalam rahim wanita yang tidak bisa hamil. Telur subur ini, walau begitu, tidak berkembang sampai tahap yang cocok untuk di transplantasikan ke rahim manusia.
Lalu tanggal 13 oktober 2001, para ilmuan dari Advanced Cell Technology di Worcester, Massachusetts, berhasil mengklon janin manusia. Mereka belum membuat hidup manusia, tapi mereka mengembangkan sumber jaringan syaraf dan jaringan lain yang dapat digunakan untuk kedokteran dan penelitian. Tetap saja berita itu sangat menggemparkan rakyat amerika dibalik tragedi serangan teroris 11 September. Sel manusia sudah bisa di reproduksi, dan sekali lagi tampak kalau produksi klon manusia itu mungkin dilakukan.
Mudah dipahami bagaimana orang merespon dengan hati-hati berita demikian. Ketakutan ini lebih berhubungan dengan hollywood daripada sains sih. Faktanya, pencapaian perusahaan dari Massachusetts tersebut, walaupun merupakan kemajuan ilmiah yang mengesankan, masih jauh dibandingkan citra Frankenstein yang dibangun oleh para anti rekayasa genetik. “Mengkloning janin” kedengarannya dramatis, padahal kenyataannya hanya satu janin yang baru mencapai ukuran enam sel sebelum sel tersebut berhenti membelah. Cuma enam sel! Ia bahkan ga dapat dilihat oleh mata tanpa mikroskop loh. Wew, jauh banget dari yang namanya tentara klon seperti di film Star Wars itu.
Kloning yang dilakukan oleh perusahaan dari Massachusetts itu adalah semacam kloning terapis, karena melibatkan produksi materi genetik untuk perawatan kondisi khusus. Itu jauh dari kloning yang bertujuan reproduktif, yang membutuhkan penanaman janin klon kedalam rahim – dan bahkan masih jauh banget dari citra klon yang dilahirkan dalam tabung uji tanpa orang tua satupun selain materi biologis yang dipakai untuk membuatnya.
Gagasan demikian terkait dengan visi dari novel Aldous Huxley tahun 1932 berjudul Brave New World daripada fakta ilmiah. Dan bahkan jika manusia ingin mengembangkan teknologi demikian, akan jauh sekali di masa depan. Bahkan bisa jadi “menciptakan kehidupan” lewat cara demikian adalah mustahil, bila ya, pencapaian demikian sama halnya saat dimana kita di masa depan berhasil pergi ke tata surya lain.
Ini bukan berarti kalau semua ketakutan kita pada kloning dan rekayasa genetika sebenarnya tidak beralasan; sebaliknya, itu adalah sebuah sikap skeptik yang penting. Menjadi skeptik itu bagus, sejauh kita punya alasan yang kuat untuk bersikap kritis.
Jumat, 03 Desember 2010
Budidaya Jamur Tiram Putih
MENINGKATKAN BER, AGAR PANEN JAMUR BANYAK
1. Gunakan jenis gergajian yang memiliki berat lebih atau lebih keras (BJ nya lebih berat)
Umumnya di pulau Jawa dan sekitarnya, pebudidiaya menggunakan kayu sengon laut untuk budidaya jamur tiram putih. Hal ini dikarenakan usia tumbuh kayu sengon singkat, sehingga cukup banyak dan mudah didapatkan. Selain itu budidaya dengan kayu sengon laut cukup mudah dilakukan dan resikonya pun tidak terlalu besar. Namun BER yang didapatkan jika menggunakan kayu sengon laut hanya berkisar maksimal 30% saja.
Jumlah BER (Biological Economic Ratio) atau perbandingan jumlah berat panen jamur dengan berat media baglog yang ada selama ini rata-rata 25%-35%, semua bergantung kualitas baglog, kualitas spawn (bibit) dan perawatan.
Bagaimana caranya agar kita dapat mencapai BER yang lebih dari itu..? Apakah mungkin..? Dan apa saja resikonya..? Mari kita bahas bersama-sama. Bagi para pakar jamur tiram, feed back dan kritik saran atas tulisan ini sangat kami harapkan.
Bagaimana caranya agar kita dapat mencapai BER yang lebih dari itu..? Apakah mungkin..? Dan apa saja resikonya..? Mari kita bahas bersama-sama. Bagi para pakar jamur tiram, feed back dan kritik saran atas tulisan ini sangat kami harapkan.
Meningkatkan BER sangat diharapkan dapat dilakukan agar hasil panen jamurnya bisa banyak, juga lama.
Tentunya dengan meningkatkatnya BER, keuntungan pebudidaya pun akan meningkat. Lalu bagaimanakah caranya untuk meningkatkan BER ini..?
Tentunya dengan meningkatkatnya BER, keuntungan pebudidaya pun akan meningkat. Lalu bagaimanakah caranya untuk meningkatkan BER ini..?
Berikut sedikit tips dan tatacaranya:
1. Gunakan jenis gergajian yang memiliki berat lebih atau lebih keras (BJ nya lebih berat)
Umumnya di pulau Jawa dan sekitarnya, pebudidiaya menggunakan kayu sengon laut untuk budidaya jamur tiram putih. Hal ini dikarenakan usia tumbuh kayu sengon singkat, sehingga cukup banyak dan mudah didapatkan. Selain itu budidaya dengan kayu sengon laut cukup mudah dilakukan dan resikonya pun tidak terlalu besar. Namun BER yang didapatkan jika menggunakan kayu sengon laut hanya berkisar maksimal 30% saja.
Jika ingin mendapatkan BER yang lebih, bisa memilih kayu mahoni, mindi, waru, coklat, meranti. Jenis kayu yang disebutkan tadi memiliki karakter lebih keras dan berat daripada kayu sengon laut. Artinya dengan menggunakan kayu tersebut, diharapkan BER akan meningkat.
2. Gunakan bibit F2 yang sesuai dengan kayu tersebut.
Kayu yang memiliki karakter lebih keras, maka bibit F2 yang akan diinokulasikan juga harus lebih kuat daripada biasanya. Ini agar pertumbuhan miselia dapat dengan cepat menjangkau atau menembus kayu tersebut. Jika baglog menggunakan jenis kayu mahoni (misalnya) maka, bibit F2 yang digunakan (jika bibit gergajian), sebaiknya berasal dari kayu mahoni pula.
Bibit F2 nya juga harus merupakan konsentrat dengan perbandingan nutrisi beras jagung:bekatul:gergajian 1:2:2 atau 1:2:3.
Kayu yang memiliki karakter lebih keras, maka bibit F2 yang akan diinokulasikan juga harus lebih kuat daripada biasanya. Ini agar pertumbuhan miselia dapat dengan cepat menjangkau atau menembus kayu tersebut. Jika baglog menggunakan jenis kayu mahoni (misalnya) maka, bibit F2 yang digunakan (jika bibit gergajian), sebaiknya berasal dari kayu mahoni pula.
Bibit F2 nya juga harus merupakan konsentrat dengan perbandingan nutrisi beras jagung:bekatul:gergajian 1:2:2 atau 1:2:3.
3. Rasio pemberian bibit pada baglog
Perlu diperhatikan agar perkembangan miselia dapat segera menembus baglog dengan cepat, maka perbandingan berat bibit ke media baglog adalah 0,8%-1,3%. Artinya, jika media baglog yang kita buat memiliki berat 1400gram (1,4kg), maka bibit yang kita inokulasikan beratnya harus 11,2gram - 18,2gram. Jumlah bibit yang diinokulasikan ke baglog sebanyak ini diharapkan akan mempercepat perkembangan miselia dan juga mengecilkan rasio kegagalan. memang, kesannya jadi boros di penggunaan bibit, oleh sebab itu diharapkan pebudidaya dapat memproduksi bibit sendiri..
Perlu diperhatikan agar perkembangan miselia dapat segera menembus baglog dengan cepat, maka perbandingan berat bibit ke media baglog adalah 0,8%-1,3%. Artinya, jika media baglog yang kita buat memiliki berat 1400gram (1,4kg), maka bibit yang kita inokulasikan beratnya harus 11,2gram - 18,2gram. Jumlah bibit yang diinokulasikan ke baglog sebanyak ini diharapkan akan mempercepat perkembangan miselia dan juga mengecilkan rasio kegagalan. memang, kesannya jadi boros di penggunaan bibit, oleh sebab itu diharapkan pebudidaya dapat memproduksi bibit sendiri..
4. Rasio pemberian nutrisi pada baglog
Nutrisi atau jumlah bekatul, tepung jagung, dan zat lainnya yang akan diberikan pada campulran media normalnya sekitar 15%. Namun untuk memperoleh BER yang lebih, nutrisi yang diberikan juga harus ditingkatkan. Akumulasi total yang diberikan adalah berkisar antara 20% hingga 25% dari berat gergajian. Mengapa pemberian nutrisi ini harus ditingkatkan..? Karena jenis kayu yang digunakan lebih keras dan berat, sedangkan nutrisi itu diperlukan untuk segera memperkuat penumbuhan miselia, jadi nutrisi yang lebih diharapkan mempercepat membentukan dan penyebaran miselia. Tapi untuk pemberian nutrisi ini, harus diperhatikan sterilisasinya juga, posting kami tentang korelasi antara pemberian nutrisi dan sterilisasi perlu untuk diperhatikan.
Nutrisi atau jumlah bekatul, tepung jagung, dan zat lainnya yang akan diberikan pada campulran media normalnya sekitar 15%. Namun untuk memperoleh BER yang lebih, nutrisi yang diberikan juga harus ditingkatkan. Akumulasi total yang diberikan adalah berkisar antara 20% hingga 25% dari berat gergajian. Mengapa pemberian nutrisi ini harus ditingkatkan..? Karena jenis kayu yang digunakan lebih keras dan berat, sedangkan nutrisi itu diperlukan untuk segera memperkuat penumbuhan miselia, jadi nutrisi yang lebih diharapkan mempercepat membentukan dan penyebaran miselia. Tapi untuk pemberian nutrisi ini, harus diperhatikan sterilisasinya juga, posting kami tentang korelasi antara pemberian nutrisi dan sterilisasi perlu untuk diperhatikan.
5. Memperbanyak rasio berat media
Kalau tips ini hanya untuk meningkatkan berat media baglog. Jika ingin memperoleh hasil yang lebih banyak, tentunya volume dan berat baglog harus diperbanyak. Jadi jika normalnya ukuran baglog adalah ber diameter 11cm tinggi 25cm (berat 1,4kg), jika ingin memperoleh hasil lebih, bisa dengan memperbesar baglog dengan ukuran baglog seberat 2kg..
Kalau tips ini hanya untuk meningkatkan berat media baglog. Jika ingin memperoleh hasil yang lebih banyak, tentunya volume dan berat baglog harus diperbanyak. Jadi jika normalnya ukuran baglog adalah ber diameter 11cm tinggi 25cm (berat 1,4kg), jika ingin memperoleh hasil lebih, bisa dengan memperbesar baglog dengan ukuran baglog seberat 2kg..
Namun.., untuk meningkatkan BER dengan tips yang sudah diberikan tadi ada beberapa hal yang sangat perlu untuk diperhatikan, antara lain..:
1. Perhatikan dengan benar ph dari gergajian
ph untuk budidaya jamur adalah 7, pengaturan ph ini dapat dilakukan dengan mencampurkan kapur secara merata pada gergajian. Ada baiknya, jika gergajian masih baru, harus dilapukkan terlebih dahulu dengan mencampurkan kapur, lalu dibiarkan selama 1bulan, barulah gergajian dapat digunakan dala proses budidaya. ph ini sangat penting karena jika ph masih diatas 7, maka kegagalan akan tinggi. Cek dengan benar ph sebelum digunakan dengan menggunakan ph meter atau kertas lagmus.
ph untuk budidaya jamur adalah 7, pengaturan ph ini dapat dilakukan dengan mencampurkan kapur secara merata pada gergajian. Ada baiknya, jika gergajian masih baru, harus dilapukkan terlebih dahulu dengan mencampurkan kapur, lalu dibiarkan selama 1bulan, barulah gergajian dapat digunakan dala proses budidaya. ph ini sangat penting karena jika ph masih diatas 7, maka kegagalan akan tinggi. Cek dengan benar ph sebelum digunakan dengan menggunakan ph meter atau kertas lagmus.
2. Pastikan sterilisasi harus benar-benar matang.
Penggunaan jenis gergajian yang lebih keras, otomatis akan memperlama proses sterilisasi. Proses pengukusan yang normalnya sekitar 8jam, jika menggunakan jenis kayu yang lebih keras, bisa jadi akan lebih lama. Pastikan dengan benar termometer sudah menunjukkan suhu media 100 derajat C dan ada baiknya setelah suhu tersebut tercapai, pertahankan dulu selama 2-3jam.. Agar rasio kegagalan dapat diperkecil.. Biasanya jika ingin menggunakan jenis serbuk gergajian dari jenis kayu yang lebih keras, sterilisasi dengan menggunakan drum kurang kuat untuk mematangkan baglog. Apalagi dengan pemberian nutrisi yang lebih banyak, diperlukan proses sterlisasi yang benar-benar panas pada steamer.
Penggunaan jenis gergajian yang lebih keras, otomatis akan memperlama proses sterilisasi. Proses pengukusan yang normalnya sekitar 8jam, jika menggunakan jenis kayu yang lebih keras, bisa jadi akan lebih lama. Pastikan dengan benar termometer sudah menunjukkan suhu media 100 derajat C dan ada baiknya setelah suhu tersebut tercapai, pertahankan dulu selama 2-3jam.. Agar rasio kegagalan dapat diperkecil.. Biasanya jika ingin menggunakan jenis serbuk gergajian dari jenis kayu yang lebih keras, sterilisasi dengan menggunakan drum kurang kuat untuk mematangkan baglog. Apalagi dengan pemberian nutrisi yang lebih banyak, diperlukan proses sterlisasi yang benar-benar panas pada steamer.
3. Proses inokulasi dan inkubasi
Karena diperkirakan pengembangan miselia akan lebih lama daripada biasanya, perlu diperhatikan dengan benar proses inokulasi dan inkubasinya. Setelah inokulasi yang benar dengan memberikan bibit dengan perbandingan 1% tadi, proses inkubasi harus ditempatkan di tempat yang benar-benar bersih dan steril. Pada 10 hari pertama ada baiknya baglog tidak terkena cahaya dan juga hanya diberi sedikit sirkulasi udara saja, nah.. setelah 10 hari tersebut, berikan sirkulasi udara dan cahaya, agar perkembangan miselia pada baglog bisa menyebar dengan baik...
Karena diperkirakan pengembangan miselia akan lebih lama daripada biasanya, perlu diperhatikan dengan benar proses inokulasi dan inkubasinya. Setelah inokulasi yang benar dengan memberikan bibit dengan perbandingan 1% tadi, proses inkubasi harus ditempatkan di tempat yang benar-benar bersih dan steril. Pada 10 hari pertama ada baiknya baglog tidak terkena cahaya dan juga hanya diberi sedikit sirkulasi udara saja, nah.. setelah 10 hari tersebut, berikan sirkulasi udara dan cahaya, agar perkembangan miselia pada baglog bisa menyebar dengan baik...
4. Perlunya penelitian kecil..
Jika ingin menggunakan serbuk gergajian dengan jenis yang lebih keras, ada baiknya kita mencobanya dahulu pada skala kecil, dan disterilkan pada autoclave. Nah.., jika memang pengembangan miselia baik, barulah bisa dilakukan untuk skala produksi yang lebih besar..
Jika ingin menggunakan serbuk gergajian dengan jenis yang lebih keras, ada baiknya kita mencobanya dahulu pada skala kecil, dan disterilkan pada autoclave. Nah.., jika memang pengembangan miselia baik, barulah bisa dilakukan untuk skala produksi yang lebih besar..
ada baiknya posting kami tentang faktor yang menyebabkan kegagalan dalam pembuatan baglog juga diperhatikan, karena tips untuk meningkatkan BER tadi juga meningkatkan pula resikonya.
AGAR PANAN BANYAK MAKA YANG HARUS DIPERHATIKAN :
Bagi pemula, bahkan bagi yang sudah lama bergelut di bisnis jamur tiram ini, terkadang kita kurang tahu apakah progress panen pada kumbung jamur tiram kita sudah normal/optimal.
Banyak juga yang mengeluhkan kenapa kog panen jamur tiram pada kumbungnya sedikit?
Banyak juga yang mengeluhkan kenapa kog panen jamur tiram pada kumbungnya sedikit?
Bagaimana menilai bahwa jumlah jamur yang dipanen pada kumbung itu normal atau tidak..?
Dan bagaimana pula untuk bisa mendeteksi apabila jumlah panen tersebut dibawah standar?
Panen jamur bisa dikatakan baik/wajar/banyak apabila memenuhi beberapa indikasi berikut ini:
Dan bagaimana pula untuk bisa mendeteksi apabila jumlah panen tersebut dibawah standar?
Panen jamur bisa dikatakan baik/wajar/banyak apabila memenuhi beberapa indikasi berikut ini:
1. Kestabilan panen
Kami pernah menulis sebelumnya bahwa jumlah baglog yang panen pada suatu kumbung berfluktuasi antara 3% hingga 10% dari jumlah baglog yang ada. Jadi jika kita memelihara 1000 baglog, maka setiap harinya jumlah baglog yang mengeluarkan jamur tiram putih adalah 30 buah hingga 100 buah baglog.
Jika berat rata-rata jamur tiram yang dipetik di tiap baglognya memiliki berat 100gram, maka hasil panen hariannya berkisar antara 0,1x30= 3kg hingga 0,1x100= 10kg.
Kami pernah menulis sebelumnya bahwa jumlah baglog yang panen pada suatu kumbung berfluktuasi antara 3% hingga 10% dari jumlah baglog yang ada. Jadi jika kita memelihara 1000 baglog, maka setiap harinya jumlah baglog yang mengeluarkan jamur tiram putih adalah 30 buah hingga 100 buah baglog.
Jika berat rata-rata jamur tiram yang dipetik di tiap baglognya memiliki berat 100gram, maka hasil panen hariannya berkisar antara 0,1x30= 3kg hingga 0,1x100= 10kg.
Dalam pengalaman kami, kisaran rata-rata per 1000 baglog adalah kurang lebih menghasilkan 4kg-5kg jamur tiram putih. Jadi jika merawat 5000 baglog tinggal dikalikan saja = 20kg-25kg per hari, dan seterusnya jika 10.000 baglog.
2. Progress panen pada bulan pertama dan kedua
Karakteristik panen jamur tiram putih jenis florida dan ostern memang bierbeda, tetapi kalau direkapitulasi hasilnya pada bulan pertama dan kedua, hasilnya hampir sama.
Diasumsikan hasil jamur totalnya adalah 30% dari berat baglog (baca berapa hasil panen jamur tiram total), jika berat baglog 1400gram (1,4kg), maka target panen adalah = 0,3*1400 = 420gram (4,2ons). Ini jumlah panen yang sangat optimis dan baik, jadi per 1000 baglognya diharapkan akan menghasilkan panen total 420kg dalam 4-5bulan masa panen.
Nah.., progress panen yang wajar/baik dari target tersebut adalah:
Karakteristik panen jamur tiram putih jenis florida dan ostern memang bierbeda, tetapi kalau direkapitulasi hasilnya pada bulan pertama dan kedua, hasilnya hampir sama.
Diasumsikan hasil jamur totalnya adalah 30% dari berat baglog (baca berapa hasil panen jamur tiram total), jika berat baglog 1400gram (1,4kg), maka target panen adalah = 0,3*1400 = 420gram (4,2ons). Ini jumlah panen yang sangat optimis dan baik, jadi per 1000 baglognya diharapkan akan menghasilkan panen total 420kg dalam 4-5bulan masa panen.
Nah.., progress panen yang wajar/baik dari target tersebut adalah:
Pada bulan pertama, kira-kira sudah mencapai 35% dari target panen = 147kg
Pada bulan kedua, kira-kira sudah mencapai 65% dari target panen = 273kg.
Pada bulan kedua, kira-kira sudah mencapai 65% dari target panen = 273kg.
Jadi, jika progress panen pada kumbung kita tidak mencapai angka itu, bisa dikatakan bahwa ada masalah yang harus diperhatikan. Tetapi jika tidak terlalu jauh capaiannya, ya bisa dikatakan juga masih wajar. Kalau lebih.. Alhamdulillah tentunya..
3. Rekapitulasi hasil total
Rekap total ini hanya bisa dilakukan jika sudah mencapai 4bulan masa produksi. Di sini kita sudah tidak bisa berbuat banyak jika jumlah panen dibawah target, karena baglog sudah melewati masa produksinya. Ini tentunya ditandai dengan baglog yang sudah kempes dan ringan. Bagi sebagian pebudidaya mungkin juga ada yang bisa hingga 6bulan. Tetapi bagi kami, umur yang pendek ini agar perputaran bisnis bisa lebih cepat. Hasil panen total jamur per baglognya seperti yang telah dibahas sebelumnya yaitu berkisar antara kurang lebih 30% dari berat baglog. Ini sudah pernah kami bahas dalam berapa hasil panen jamur bagian 1, dan berapa hasil panen jamur bagian 2.
Rekap total ini hanya bisa dilakukan jika sudah mencapai 4bulan masa produksi. Di sini kita sudah tidak bisa berbuat banyak jika jumlah panen dibawah target, karena baglog sudah melewati masa produksinya. Ini tentunya ditandai dengan baglog yang sudah kempes dan ringan. Bagi sebagian pebudidaya mungkin juga ada yang bisa hingga 6bulan. Tetapi bagi kami, umur yang pendek ini agar perputaran bisnis bisa lebih cepat. Hasil panen total jamur per baglognya seperti yang telah dibahas sebelumnya yaitu berkisar antara kurang lebih 30% dari berat baglog. Ini sudah pernah kami bahas dalam berapa hasil panen jamur bagian 1, dan berapa hasil panen jamur bagian 2.
Dari ketiga indikasi tersebut, InsyaALLAH sudah bisa ditentukan, apakah panen jamur tiram pada kumbung kita normal atau kurang baik. Penting kiranya diperhatikan, jika indikasi kurang baik panen tersebut sudah dideteksi pada bulan pertama, agar kita bisa segera menentukan langkah berikutnya untuk melakukan identifikasi masalah dan segera melakukan perbaikan.
Ada baiknya juga referensi tentang pola pertumbuhan jamur tiram berikut diperhatikan juga untuk menilai normal tidaknya panen jamur di kumbung.
Jika Ternyata panen tidak baik, (kurang banyak) ada beberapa sebab yang PERLU DIPERHATIKAN, YaiTU..:
1. Kadar/takaran nutrisi pada baglog kurang baik/tidak sesuai.
Takaran yang baik yang terkandung dalam baglog biasanya adalah kandungan sekitar 15%-20% akumulasi kadar tepung jagung dan bekatul. Boleh juga ditambah sedikit air gula. Tetapi pada jenis kayu tertentu terkadang penambahan aditif seperti air gula malah tidak sesuai. Nah.., apabila kadar takaran ini kurang, walaupun tumbuh miselium, terkadang jumlah jamur yang dipanen kurang baik. Baca posting kami tentang faktor yang mempengaruhi kualitas baglog.
Takaran yang baik yang terkandung dalam baglog biasanya adalah kandungan sekitar 15%-20% akumulasi kadar tepung jagung dan bekatul. Boleh juga ditambah sedikit air gula. Tetapi pada jenis kayu tertentu terkadang penambahan aditif seperti air gula malah tidak sesuai. Nah.., apabila kadar takaran ini kurang, walaupun tumbuh miselium, terkadang jumlah jamur yang dipanen kurang baik. Baca posting kami tentang faktor yang mempengaruhi kualitas baglog.
2. Bibit yang kurang baik.
Hal ini sudah kami bahas sebelumnya. Intinya memang harus digunakan strain bibit yang berkualitas untuk menghasilkan panen yang baik pula.
Hal ini sudah kami bahas sebelumnya. Intinya memang harus digunakan strain bibit yang berkualitas untuk menghasilkan panen yang baik pula.
3. Kontaminasi dan gangguan hama.
Pada saat di kumbung, bisa jadi ada gangguan dari bakteri tertentu, hama ulat, siput kecil, dsb. Ini terjadi bukan karena baglog yang kurang matang pada proses sterilisasi, tetapi kondisi kumbung itu sendiri yang kurang bersih. Penting dilakukan, sebelum diisi baglog, kumbung disterlisasi dengan menggunakan formalin 4% atau bisa juga dengan menggunakan fungisida. Bersihkan kumbung dengan baik, dan usahakan lingkungan sekitar kumbung pun hendaknya bersih. Dalam artian di sekitar kumbung kalau bisa jangan ada tempat pembuangan sampah atau sejenisnya.
Pada saat di kumbung, bisa jadi ada gangguan dari bakteri tertentu, hama ulat, siput kecil, dsb. Ini terjadi bukan karena baglog yang kurang matang pada proses sterilisasi, tetapi kondisi kumbung itu sendiri yang kurang bersih. Penting dilakukan, sebelum diisi baglog, kumbung disterlisasi dengan menggunakan formalin 4% atau bisa juga dengan menggunakan fungisida. Bersihkan kumbung dengan baik, dan usahakan lingkungan sekitar kumbung pun hendaknya bersih. Dalam artian di sekitar kumbung kalau bisa jangan ada tempat pembuangan sampah atau sejenisnya.
4. Kumbung terkena banyak kontaminasi gas, asap, CO2..
Perkembangan jamur memerlukan oksigen sebagai pemicu tubuh buah. Kontaminasi asap atau Co2 yang berlebihan masuk ke dalam kumbung tentunya dapat menghambat perkembangan atau pembentukan tubuh buah. Akhirnya baglog gagal atau hanya sedikit menghasilkan jamur. Usahakan pembangunan kumbung jauh dari lokasi pembakaran sampah, bengkel motor, dan apapun yang menghasilkan asap. Lebih bagusnya kalau dekat dengan pepohonan.
Perkembangan jamur memerlukan oksigen sebagai pemicu tubuh buah. Kontaminasi asap atau Co2 yang berlebihan masuk ke dalam kumbung tentunya dapat menghambat perkembangan atau pembentukan tubuh buah. Akhirnya baglog gagal atau hanya sedikit menghasilkan jamur. Usahakan pembangunan kumbung jauh dari lokasi pembakaran sampah, bengkel motor, dan apapun yang menghasilkan asap. Lebih bagusnya kalau dekat dengan pepohonan.
5. Tata cara panen dan perawatan yang salah
Perawatan sangat penting, ini dikarenakan pemanenan jamur adalah setiap hari. Cara panen yang benar adalah mencabut jamur hingga akarnya secara sempurna, bahkan hingga gergajiannya ikut juga. Pencabutan yang tidak sempurna menyebabkan tertinggalnya sisa tangkai di mulut baglog, hal inilah yang menyebabkan menghalangi panen berikutnya dan bahkan jika membusuk dapat menyebabkan munculnya ulat, bakteri, dan mengkontaminasi baglog.
Perawatan sangat penting, ini dikarenakan pemanenan jamur adalah setiap hari. Cara panen yang benar adalah mencabut jamur hingga akarnya secara sempurna, bahkan hingga gergajiannya ikut juga. Pencabutan yang tidak sempurna menyebabkan tertinggalnya sisa tangkai di mulut baglog, hal inilah yang menyebabkan menghalangi panen berikutnya dan bahkan jika membusuk dapat menyebabkan munculnya ulat, bakteri, dan mengkontaminasi baglog.
Jadi cara panen yang benar disertai dengan selalu memeriksa kebersihan baglog sangat menentukan hasil panennya.
6. Kurangnya sirkulasi udara dan cahaya
Apabila pada masa inkubasi untuk perkembangan miselium tidak memerlukan oksigen, sebaliknya pada saat fase penumbuhan jamur, sangat diperlukan oksigen sebagai pemicu tumbuhnya. Jadi kumbung yang kurang baik sirkulasi udaranya akan berpengaruh pada hasil panen nantinya. Ini juga terkait dengan jumlah baglog yang terlalu padat dan banyak pada kumbung, akhirnya karena sirkulasi udara kurang, jamur yang dihasilkan pun kurang baik dalam kuantitas. Standar pembuatan kumbung yang baik memang masih terus dicari, tetapi beberapa referensi kumbung pada posting kami sebelumnya bisa menjadi pertimbangan.
Apabila pada masa inkubasi untuk perkembangan miselium tidak memerlukan oksigen, sebaliknya pada saat fase penumbuhan jamur, sangat diperlukan oksigen sebagai pemicu tumbuhnya. Jadi kumbung yang kurang baik sirkulasi udaranya akan berpengaruh pada hasil panen nantinya. Ini juga terkait dengan jumlah baglog yang terlalu padat dan banyak pada kumbung, akhirnya karena sirkulasi udara kurang, jamur yang dihasilkan pun kurang baik dalam kuantitas. Standar pembuatan kumbung yang baik memang masih terus dicari, tetapi beberapa referensi kumbung pada posting kami sebelumnya bisa menjadi pertimbangan.
7. Kelembaban udara yang kurang..
Kelembaban udara yang diperlukan agar dihasilkan jamur yang baik berkisar antara 80%-90%. Apabila kelembaban udara kurang, dikhawatirkan baglog akan mengering, ini yang menyebabkan jumlah panennya akan berkurang, karena kadar air dalam baglog harus stabil di kisaran 70%, jika berkurang, maka akan kurang juga jamurnya atau malah gagal menumbuhkan jamur.
Kelembaban udara yang diperlukan agar dihasilkan jamur yang baik berkisar antara 80%-90%. Apabila kelembaban udara kurang, dikhawatirkan baglog akan mengering, ini yang menyebabkan jumlah panennya akan berkurang, karena kadar air dalam baglog harus stabil di kisaran 70%, jika berkurang, maka akan kurang juga jamurnya atau malah gagal menumbuhkan jamur.
8. Kadar air dalam baglog yang berlebihan
Ini malah kontradiksinya, kadar air dalam baglog harus pas. Jika berlebih, dikhawatirkan akan memicu kontaminan yang akhirnya baglog akan gagal menumbuhkan jamur tiram.
Mungkin masih ada beberapa hal lagi, tetapi memang umumnya berkisar antara perawatan baglog di dalam kumbung..
Memang untuk merawat baglog jamur tiram, diperlukan ketelatenan, ketelitian, dan juga harus rajin dalam artian menjaga higinitas dan kebersihannya. Kumbung yang dirawat dengan baik akan berpotensi menghasilkan jamur tiram dalam jumlah yang banyak pula..
Ini malah kontradiksinya, kadar air dalam baglog harus pas. Jika berlebih, dikhawatirkan akan memicu kontaminan yang akhirnya baglog akan gagal menumbuhkan jamur tiram.
Mungkin masih ada beberapa hal lagi, tetapi memang umumnya berkisar antara perawatan baglog di dalam kumbung..
Memang untuk merawat baglog jamur tiram, diperlukan ketelatenan, ketelitian, dan juga harus rajin dalam artian menjaga higinitas dan kebersihannya. Kumbung yang dirawat dengan baik akan berpotensi menghasilkan jamur tiram dalam jumlah yang banyak pula..
Pengalaman kami, ada kumbung yang perawatannya optimal, dari 6500baglog ukuran 1,4kg dapat menghasilkan jamur sebanyak 3000kg (3ton) dalam waktu 130hari..
Tetapi sebaliknya, ada kumbung yang kurang dirawat dengan baik, dari 5900baglog ukuran 1,4kg hanya menghasilkan jamur sebanyak 1700kg saja.
Intinya.., semua kembali kepada kita sendiri... tidak ada bisnis atau usaha yang hasilnya bisa optimal jika tidak dengan benar diperhatikan
Cara Menanam Tomat
Tomato ialah satu jenis sayur-sayuran buah yang kaya dengan vitamin
A & C
Jenis
Terdapat banyak jenis tomato dari luar dan dalam negeri.
Menyemai
Biji benih disemai selama 3-4 minggu sebelum diubah. Tanah biasa
atau gambut boleh digunakan untuk menyemai biji benih. Keadaan tanah
hendaklah halus dan ditambah baja NPK ( 12: 12 : 17: 2). Gaulkan
benij dengan racun kulat (Thiram) sebelum disemai. Jarak menyemai 5
cm x 0.5 cm dalam. Sembur racun kulat dan serangga tiap-tiap minggu.
kadar benih 300 g/ ha
Mengubah
Anak semaian sedia diubah bila menpunyai 4-5 helai daun atau pada
minggu keempat. Siram dengan air sebelum dipindah ke ladang. Siram
dan beri lindungan selepas mengubah.
Keadaan Tanah
Tomato perlukan tanah yang kaya dengan bahan organan dan pengaliran
air yang baik. Tanah yang masam hendaklah ditabur kapur magnesium
sebanyak 3- 5 tan /ha.
Membuat batas
Batas-batas dibuat setinggi 20-30 cm, lebar 1.2m panjang sesuka
hati.
Menaman
Anak semaian ditanam dengan jarak 60 cm antara pokok dan 60 cm
antara barisan.
Penyokong pokok
Satu cara menyokong pokok tomato adalah seperti ditunjukkan pada
gambarajah di sebelah.
Membaja
Untuk tanah gambut kadar membaja dengan NPK (12 : 12: 17 : 2) adalah
seperti berikut :
Peringkat pertumbuhan Kadar sepokok
Minggu kedua 31g
Minggu keempat 31g
Minggu Kelapan 31g
Baja ditabur di sekeliling pokok.
Memangkas
Dua batang utama dibiar tumbuh dan berbuah. Memangkas dimulakan
selepas pengeluaran bunga
Sungkupan
Ia mengurangkan kehilangan air dari tanah, mengawal kenaikan suhu
tanah dan kawal pertumbuhan rumpai.
Bahan sungupan adalah seperti lalang kering, pelepah kelapa sawit
dan lain-lain.
Mengawal Rumpai
Dibuat dari semasa ke samasa untuk mengurangkan persaingan unsur
makanan dan cahaya matahari.
MEMUNGUT HASIL Buah boleh dipetik dalam masa 12-15 minggu dari menyemai. Petik buak
yang matang, sebelum buahnya menjadi masak atau kuning.
Hasil boleh dipungut tiap-tial tiga hari sekali. Anggaran hasil 16
000 kg/ ha.
A & C
Jenis
Terdapat banyak jenis tomato dari luar dan dalam negeri.
Menyemai
Biji benih disemai selama 3-4 minggu sebelum diubah. Tanah biasa
atau gambut boleh digunakan untuk menyemai biji benih. Keadaan tanah
hendaklah halus dan ditambah baja NPK ( 12: 12 : 17: 2). Gaulkan
benij dengan racun kulat (Thiram) sebelum disemai. Jarak menyemai 5
cm x 0.5 cm dalam. Sembur racun kulat dan serangga tiap-tiap minggu.
kadar benih 300 g/ ha
Mengubah
Anak semaian sedia diubah bila menpunyai 4-5 helai daun atau pada
minggu keempat. Siram dengan air sebelum dipindah ke ladang. Siram
dan beri lindungan selepas mengubah.
Keadaan Tanah
Tomato perlukan tanah yang kaya dengan bahan organan dan pengaliran
air yang baik. Tanah yang masam hendaklah ditabur kapur magnesium
sebanyak 3- 5 tan /ha.
Membuat batas
Batas-batas dibuat setinggi 20-30 cm, lebar 1.2m panjang sesuka
hati.
Menaman
Anak semaian ditanam dengan jarak 60 cm antara pokok dan 60 cm
antara barisan.
Penyokong pokok
Satu cara menyokong pokok tomato adalah seperti ditunjukkan pada
gambarajah di sebelah.
Membaja
Untuk tanah gambut kadar membaja dengan NPK (12 : 12: 17 : 2) adalah
seperti berikut :
Peringkat pertumbuhan Kadar sepokok
Minggu kedua 31g
Minggu keempat 31g
Minggu Kelapan 31g
Baja ditabur di sekeliling pokok.
Memangkas
Dua batang utama dibiar tumbuh dan berbuah. Memangkas dimulakan
selepas pengeluaran bunga
Sungkupan
Ia mengurangkan kehilangan air dari tanah, mengawal kenaikan suhu
tanah dan kawal pertumbuhan rumpai.
Bahan sungupan adalah seperti lalang kering, pelepah kelapa sawit
dan lain-lain.
Mengawal Rumpai
Dibuat dari semasa ke samasa untuk mengurangkan persaingan unsur
makanan dan cahaya matahari.
MEMUNGUT HASIL Buah boleh dipetik dalam masa 12-15 minggu dari menyemai. Petik buak
yang matang, sebelum buahnya menjadi masak atau kuning.
Hasil boleh dipungut tiap-tial tiga hari sekali. Anggaran hasil 16
000 kg/ ha.
Langganan:
Postingan (Atom)
